29 October 2017

GMNU Ajibarang Melek Literasi

IPNU IPPNU Ajibarang sebagai bagian penting dari Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang harus melek liteasi.



"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah, "

Quotes dari Imam Ghozali itu dikutip oleh Gus Eron, Pengasuh Rubrik Daras luarKotak.id sebagai pembuka acara pelatihan jurnalistik yang digelar untuk memperingati hari santri nasional, Sabtu siang (21/10) di Pendopo Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang.

Acara pelatihan jurnalistik yang helat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang    tersebut menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan akbar Jambore hari santri 2017 Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang dimulai sejak Jum'at (20/10) hingga Ahad (22/10).

Dengan mnggadeng media literasi lokal bernama luarKotak. Acara pelatihan yang diikuti oleh ratusan santri se kecamatan Ajibarang tersebut berlangsung dengan santai, penuh guyonan dan keakraban.

Tradisi baca tulis atau literasi dikalangan santri, khususnya di kalangan pelajar NU Kecamatan Ajibarang yang dirasa semakin hari semakin berkurang atau bahkan nyaris hilang kini mencoba dibangkitkan kembali secara berlahan.

"Hal itu yang menjadi dasar bagi kami untuk mengadakan acara ini," ucap Dony, Ketua IPNU Ajibarang "Kami ingin, membangkitkan kembali semangat literasi dikalangan kami," tambahnya.

Kemesraan antara dunia santri dan literasi sebenarnya bukanlah hal baru, sejak dulu keduanya sudah saling akrab dan menjalin hubungan erat. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kitab-kitab karya ulama nusantara yang hinga saat ini masih sering dikaji oleh para santri.

Banyak kitab-kitab karya ulama nusantara tersebut membuktikan bahwa kemampuan literasi mereka bukan hanya isapan jempol belaka, melainkan sudah menjadi tradisi dan budaya yang harus kita jaga.

Santri zaman now juga harus melek literasi, melek dalam arti bisa dan mampu menciptakan sebuah karya tulis, entah itu cerpen, artikel, opini, berita bahkan sampai karya tulis ilmiah.  Pendek kata : santri zaman now harus bisa menulis. Apalagi ditengah-tengah semrawutnya arus informasi media sosial yang kian banyak memunculkan hoax, santri zaman now harus cerdas mengolahnya.

Salah satu cara mengolahnya adalah dengan menggiatkan kembali semangat membaca dan menulis. Semangat literasi yang tinggi inilah yang menjadi modal awal santri zaman now untuk tetap eksis, menyuarakan pesan-pesan kyai yang menyejukkan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Di akhir sesi pelatihan, Susanto pengasuh rubrik riwayat luarKotak kembali menegaskan kepada para santri untuk gemar menulis. "Menulislah, maka kau abadi," tegasnya mengakhiri sesi pelatihan siang itu.

Labels: , ,

28 October 2017

Catatan Kecil Kegiatan Hari Santri GMNU Ajibarang



Tepat seminggu yang lalu, kita bersama-sama melakukan upacara atau apel untuk menggenang peristiwa heroik resolusi jihad para kiai dan santri mempertahankan kemerdekaan Indonesia, apel tersebut menjadi menjadi puncak dari semua rangkaian kegiatan jambore hari santri 22 Oktober 2017 yang digelar oleh Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang.

Jambore hari santri adalah sebuah event besar, event yang melibatkan hampir seluruh komponen Nahdlatul Ulama di Kecamatan Ajibarang. Dari mulai pelajar hingga orang tua, tua dan muda, remaja dan pemuda, hingga pedagang kopi, roti martabak,pop ice, sampai nasi bungkus juga ikut terlibat.

Media pun berbondong-bondong datang, meliput kegiatan dan memberitakan semua hal yang terjadi dalam event tersebut. Media nasional, lokal, hinga blog berita ecek-ecek juga tak kalah menuliskannya. Sehingga, kegiatan yang nyatanya sudah besar, menjadi semakin besar pula berkat media.

Tentunya plus minus media juga ada, namun tak akan saya bahas sekarang, karena tentunya banyak yang sudah paham, dan takutnya tulisan ini menjadi semakin berkembang ora genah, sehingga membuat orang gagal paham.

* * * * *

Hari Santri, diambil dari kata santri,  menurut pangendikane KH Mustofa Bisri (Gus Mus) Bukan hanya mereka yang di pesantren, melainkan siapapun orang yg gemar mengaji adalah santri. Kalau kau gemar mengaji, berarti kau adalah santri. Yah walaupun ngajinya cuma tiap malam jumat manis di Masjid Mabbaul ulum Ajibarang Kulon, gak apa-apa, kalian tetap Santri.

Nah, mumpung masih dalam suasana mambu hari santri, mari kita rayakan hari rayanya orang-orang yang gemar mengaji itu dengan menggiatkan kembali budaya diskusi keilmuan melalui berbagi macam forum, salah satunya jumat manisan atau forum forum kecil yang lain yang serat akan keilmuan di Kecamatan Ajibarang.


Angkat cangkir kopinya kawan...



Kifayatul Ahyar 

Labels: ,

26 October 2017

Realitas dan Nasehat didalam Komedi Sibugil dan Sepanduk Lusuh : Komentar Cerpen Ahmad Tohari


Perempuan kampung kami menarik keluar spanduk lusuh yang berlambang organisasi politik itu dari bawah kedua selangkang Si Bugil lalu menjulurkannya ke pada Si Cakil.
“Ambil ini. Kami, bahkan Si Bugil tidak membutuhkannya.”
Sepenggal paragraf dan dialog dalam cerpen Ahmad Tohari yang terbit di Horison pada Juli 2016 berjudul " Komedi Si Bugil dan Sepanduk Lusuh" Adalah Sebuah cerpen yang berlatar belakang di sebuah daerah pedesaan yang bercerita tentang seorang perempuan gila bernama Si Bugil. Sesuai dengan nama nya dia di gambar kan oleh penulis sebagi perempuan gila yang tak berpakaian atau Bugil, dia sering berjalan-jalan di pinggir jalan sambil tersenyum dan tertawa lepas tak ada beban.
Sekali duakali, saya pribadi dan bahkan mungkin anda, pasti pernah menjumpai tokoh Si Bugil didalam kehidupan nyata, baik itu di jalanan desa maupun di jalanan kota, pasti kita pernah menjumpai nya. Dan sepertinya si penulis cerpen nya sendiri pun juga pernah menjumpai tokoh Si Bugil didalam kehidupan nyatanya sitokoh bugil.
Kemudian Santokliwon, pemuda kampung yang maniak dangdut. Pada faktanya pemuda-pemuda di kampung hampir semua rata-rata menyukai musik dangdut, dan pangelaran musik dangdut adalah hiburan yang murah meriah bahkan gratis bagi masyarakat di desa untuk mengobati duka lara. 
Lalu pemuda ber seragam loreng dan si perempuan kampung adalah sebuah gambaran tentang bagimana kepeduliah seorang perempuan sederhana yang tak tahu apa-apa, tak ikut organisasi ini itu dan sebaginya, tapi dia masih mempunyai hati dan kepedulian terhadap sesama, di bandingkan dengan si cakil yang taunya hanya mawuk-mawuk saja, padahal dia seorang anggota organisasi politik yang seharusnya lebib peka, tetapi malahan sebaliknya. Dia malah marah ketika spanduk organisasi nya dipaki oleh si Bugil untuk menutupi aurat tubuh nya. 
Dan yang terakhir, saya menilai bahwa cerpen yang berjudul Komedi Si Bugil dan Spanduk Lusuh tersebut adalah sebuah kritik tajam tapi halus tentang realitas sosial kehidupan yang ada. Dimana nilai-nilai kepedulian terhadap sesama manusia sudah semakin luntur saja, kepekaan terhadap hal-hal kecil semaik langka, tenggang rasa terhadap sesama manusia mulai menghilang, dan si empunya cerpen ini seperti ingin mengingatkan kita bahwa kita sebagi manusia harus selalu memiliki sifat Tepo Sliro, Melakukan Tepo Sliro dan Mengajarkan Tepo Sliro. 
Sekian.
21 Februari 2016

Labels: , ,

25 October 2017

Bawor Gagal Kawin



Bawor. Begitulah biasanya ia dipanggil. Pria berperawakan pendek dan gemuk, mirip seperti  tokoh punakawan dalam cerita pewayangan yaitu Bawor atau Bagong. Ia hanyalah seorang penjual sayur di pasar. Meski tak setampan Shah Rukh Khan, namun ia cukup terkenal dikampungnya. Banyak orang yang suka padanya karena kejujuran dan kebaikan hatinya.
Diumurnya yang hampir kepala tiga, Bawor belum memiliki pendamping hidup. Bukannya ia tidak laku, ia hanya terlalu takut untuk kembali menjalin hubungan dengan seseorang. Kisah-kisah cintanya yang tragis dimasa lalu membuatnya trauma untuk sekedar melakukan pendekatan dengan seorang gadis. Sudah terhitung tiga kali ia gagal dalam merajut kisah cintanya. Kisah cinta pertamanya ia jalin dengan seorang wanita bernama Menur. Gadis sederhana yang tinggal sekampung dengannya. Satu tahun menjalin cinta dengan Menur, Bawor harus merasakan yang namanya sakit hati akibat perselingkuhan Menur dengan Parno, teman sesama penjual sayur dipasar. Hati Bawor sakit, seolah-olah ada sebuah tombak panjang dan berkarat menancap di ulu hatinya. Namun Bawor adalah pria yang kuat. Ia sama sekali tidak menaruh dendam dan dengan besar hati ia merelakan Menur untuk Parno.
Berbulan-bulan setelah hubungannya kandas dengan Menur, Bawor hidup sendiri tanpa adanya tambatan hati. Hingga pada akhirnya, Rohmah, gadis manis jebolan pesantren berhasil merebut perhatiannya. Ia jatuh cinta. Tak mau menunggu lama, ditahun kedua hubungannya dengan Rohmah, Bawor nekat mendatangi rumah gadisnya dan meminta restu pada kedua orang tuanya agar dapat segera meminang putri mereka. Niat Bawor disambut baik oleh kedua orang tua Rohmah. Mereka segera menetapkan tanggal yang baik untuk pernikahan Bawor dan Rohmah. Namun sepertinya Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Tepat seminggu sebelum hari pernikahan berlangsung, Rohmah harus lebih dulu dipanggil Yang Kuasa. Ia mengalami kecelakaan saat hendak berbelanja kepasar untuk membeli keperluan dihari pernikahannya. Bawor kembali merana, gadis pujaan yang sebentar lagi sah menjadi miliknya harus pergi mendahuluinya. Ia sempat mempunyai pemikiran untuk mengakhiri hidupnya dan pergi menyusul Rohmah ke surga, tetapi ia terlalu takut untuk melakukan itu. Ia takut berdosa dan ia takut mati. Bawor pun memutuskan untuk melanjutkan hidupnya sambil secara perlahan menghapus nama Rohmah dari hatinya, karena menurutnya berlarut-larut dalam kesedihan meratapi orang yang telah meninggal adalah hal yang sia-sia.
Empat tahun setelah kematian Rohmah, Bawor kembali melabuhkan hatinya pada seorang gadis berkulit hitam manis nan mungil bernama Sekar. Ia merupakan putri semata wayang dari Ki Braja, seorang dalang dari kampung tetangga. Selama satu tahun, hubungan Bawor dan Sekar berjalan mulus tanpa ada masalah. Selain karena Sekar dan Bawor saling mencintai, kedua orang tua merekapun sudah sama-sama memberi restu kepada keduanya untuk melangkah kejenjang pernikahan. Namun lagi-lagi badai kembali menghantam kehidupan cinta Bawor. Ditahun kedua hubungannya dengan Sekar, Bawor terpaksa harus menelan pil pahit dari kisah cintanya. Beberapa hari setelah acara lamaran, orang tua Sekar yang sangat memegang erat tradisi kejawen tiba-tiba memutuskan hubungan anaknya dengan Bawor secara sepihak lantaran perhitungan weton keduanya tidak cocok. Menurut perhitungan, jika Bawor dan Sekar tetap menikah, maka salah satu dari mereka atau keluarga mereka akan ada yang meninggal. Sebenarnya Bawor tidak terlalu mempercayai hitung-hitungan seperti itu. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan kedua orang tua Sekar bahwa nasib pernikahan mereka nantinya ada ditangan Tuhan, bukan ditangan hitung-hitungan bodoh seperti itu. Namun orang tua Sekar tetap bersikeras memutuskan hubungan keduanya. Bahkan ibu Sekar, Nyi Braja, mengancam akan bunuh diri jika hubungan keduanya tetap berlanjut. Ia ingat perkataan Sekar beberapa hari setelah hubungan mereka dipisahkan secara sepihak.
“Watak bapak dan biyungku itu keras, sulit untuk dilunakkan. Jika mereka ingin hubungan kita tidak berlanjut, yo wis kita turuti saja kehendak mereka. Aku takut kualat, mas.”
Bawor menyerah. Kata-kata yang meluncur disertai isakan kecil dari bibir gadis mungil itu membuatnya tidak bisa berbuat apapun selain menerima keputusan kedua orang tua Sekar.Perasaan kecewa, sedih, marah, sakit hati bercampur menjadi satu dan mengendap direlung hatinya. Tak henti-hentinya ia mengutuk hitung-hitungan laknat yang telah menghancurkan hubungannya dengan Sekar. Selama berhari-hari ia terus murung. Tak ada lagi senyum dan tawa yang selalu menghiasi wajah cerianya. Makan tak habis, tidur tak nyenyak, mandi pun tak basah. Siang dan malam ia habiskan untuk mengadu kepada Sang Pencipta mengenai nasib kisah cintanya yang harus berakhir dengan begitu tragis.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Meski luka hatinya belum sepenuhnya kering setelah hubungannya dengan Sekar diputuskan secara sepihak, namun nampaknya Bawor sudah kembali menjadi Bawor yang ceria seperti dulu. Seperti biasa, di pagi hari ia harus berangkat ke pasar menjual sayur-sayuran segar yang ia petik dari kebun kecil dibelakang rumah. Dengan sepeda ontel tuanya, ia menyusuri jalan-jalan berlubang yang digenangi air sisa hujan semalam. Jarak dari rumahnya ke pasar tidaklah begitu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, ia sudah sampai di pasar dan segera menggelar dagangannya. Sambil menunggu pembeli, Bawor duduk didepan lapak sambil melihat-lihat sekeliling pasar. Pada saat itulah matanya menangkap sesosok bidadari bermata bening dilapak penjual buah. Bawor terkesima, matanya tak pernah lepas menatap sang bidadari yang terlihat begitu anggun. Gamis panjang berwarna ungu muda dipadu dengan jilbab lebar berwarna senada tampak begitu serasi membalut tubuhnya. Wajahnnya yang putih bersih dihias sepasang mata sebening embun terasa bagai tiupan angin surga yang menyejukkan hati, dan tak lupa bibir semerah mawar yang selalu melengkung indah membuat ulat-ulat dihati Bawor bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah penuh warna. Tak henti-hentinya Bawor menggumamkan kalimat ‘subhananallah’ untuk memuji betapa indah bidadari yang berdiri tak jauh darinya. Bawor memegang dadanya yang entah mengapa tiba-tiba berdebar begitu kencang. Debaran yang sama seperti ketika ia pertama kali berjumpa dengan Sekar. Ia terus-menerus menatap sang bidadari yang kini berjalan kearahnya hingga ia tak menyadari bahwa sang bidadari telah berdiri dengan cantik dihadapannya.
“Ekhemm.” sebuah deheman halus mengembalikan Bawor kealam sadarnya. Ia segera berdiri dan memberikan senyum terbaiknya pada sang bidadari.
“A.. ada yang bisa saya bantu, mbak?” tanya Bawor berusaha santai, padahal hatinya berdebar bukan main. 
“Beli sayur kangkungnya dua ikat ya, mas.” Alunan suara yang begitu lembut keluar dari bibir merah sang bidadari, menyapa gendang telinga Bawor dan membuatnya meleleh seketika.
“Baik, mbak.” Dengan cekatan, Bawor segera mengambil dua ikat kangkung dan memasukannya kedalam tas kresek. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyerahkan bungkusan tas kresek itu kepada sang bidadari bermata bening dihadapannya.
“Berapa semuanya, mas?” alunan lembut itu kembali terdengar.
“Empat ribu saja, mbak.”
“Ini uangnya, mas. Kembaliannya ambil saja.”
“Matur suwun, mbak”
Bidadari itu memberikan senyum manisnya, sebelum akhirnya pergi dari lapak Bawor. Mata Bawor terus mengikuti langkah sang bidadari hingga sosoknya tak terlihat lagi.
***
Bawor tidak bisa melupakan sang bidadari bermata bening sejak pertemuan mereka tadi pagi di pasar, Dikamarnya yang sempit, Bawor berbaring terlentang diatas tempat tidurnya dengan kedua tangan ia jadikan bantal. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar, sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Sudah hampir tiga jam ia seperti itu. Pertemuannya dengan bidadari bermata bening tadi pagi di pasar masih melekat indah dipikirannya. Bayangan tentang segala keindahan yang ada pada diri sang bidadari terus berputar diotaknya, seperti sebuah film yang diputar berulang-ulang. Suaranya yang merdu bagai dentingan harpa dari surga masih terngiang ditelinganya, membuat pikirannya kacau seketika. Lengkung manis dibibir merahnya bagaikan aliran listrik yang menggetarkan hati, membuatnya gelisah dan tak bisa memejamkan mata. Bawor sangat tahu gejala apa yang sedang ia rasakan. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya dimasa lalu, Bawor menyimpulkan bahwa gejala yang ia alami adalah gejala orang jatuh cinta. Ya, Bawor telah jatuh cinta pada seorang bidadari yang ia ketahui bernama Hanna. Ia mengetahui nama sang bidadari dari Mbok Surti, tetangga kampungnya yang juga berjualan dipasar bersamanya. Dari Mbok Surti pulalah Bawor mengetahui bahwa Hanna adalah keponakan Pak Haji Zulkifli, seorang tokoh ulama di kampungnya. Hanna datang ke rumah pamannya sekitar tiga hari yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Mesir dan berencana menghabiskan waktu liburnya dirumah sang paman sebelum kembali berangkat untuk melanjutkan S2-nya. Bawor semakin kagum pada sosok Hanna begitu mendengar cerita dari Mbok Surti. Bagaimana tidak kagum, Hanna adalah sosok yang begitu cantik ditambah lagi ia juga cerdas, keponakan dari seorang ulama pula, lelaki mana yang tidak akan jatuh hati padanya? Ah, Hanna memang begitu mempesona. Begitu kira-kira isi pikiran Bawor. Ia berharap esok hari dapat kembali bertemu dengan bidadari pujaannya.
***
Pagi ini Bawor begitu gembira. Selain dagangannya yang laris manis dan membuatnya bisa pulang lebih awal dari pasar, Sang Khaliq ternyata mengabulkan harapannya untuk bisa kembali berjumpa dengan Hanna. Ia sedang berada dikebunnya ketika melihat Hanna yang berjalan seorang diri entah akan kemana. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Bawor segera menegurnya.
“Selamat pagi, mbak. Mau kemana pagi-pagi begini?” sapa Bawor ramah.
“Ehh,, selamat pagi, mas. Saya mau mengantar pesanan kue kerumah Bu Tuti, tapi saya tidak tahu rumahnya.” Hanna menjawab sapaan Bawor dengan senyum indah menghiasi wajahnya. 
“Kebetulan saya tahu rumahnya. Kalau mbak tidak keberatan, saya bisa mengantar mbak” tawar Bawor. Dalam hati ia berdo’a semoga Hanna tidak menolak tawarannya.
“Emm.. boleh, mas. Tapi apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak. Kebetulan pekerjaan saya sudah selesai. Mari, mbak.”
Hanna mengangguk, menerima tawaran Bawor. Hal ini membuat pria gembul itu girang bukan main. Ingin rasanya ia berlari keliling kampung sambil berteriak menyuarakan isi hatinya yang sedang berbunga. Namun ia masih punya harga diri, ia tidak mau dicap sebagai orang gila oleh warga kampung, sehingga ia menelan keinginannya tersebut.
Bawor dan Hanna berjalan beriringan menyusuri jalan setapak kecil yang berbatu. Bawor menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih mengenal Hanna. Sepanjang perjalanan, mereka terus bercengkrama. Tanpa Hanna ketahui, Bawor diam-diam memilih jalan memutar yang lebih jauh kerumah Bu Tuti. Alasannya tentu saja karena ia ingin berlama-lama bersama sang bidadari pujaan. Rumah Bu Tuti yang seharusnya hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari kebunnya, menjadi bermeter-meter jaraknya. Yah, namanya juga orang sedang kasmaran, pasti apapun akan dilakukan untuk bisa terus bersama dengan sang pujaan.
***
Tak terasa dua bulan sudah berlalu begitu cepat. Hubungan Bawor dan Hanna kini menjadi semakin akrab. Sesekali Bawor mendatangi rumah Pak Haji Zulkifli dengan membawa satu kantong plastik sayuran segar yang baru dipetik dari kebunnya. Alasannya sudah pasti untuk menemui Hanna. Terkadang Bawor juga rela menyempatkan waktunya untuk menemani Hanna mengantar kue pesanan ke rumah pelanggan Bu Hajah Siti. Semakin hari, Bawor semakin jatuh kedalam pesona seorang Hanna. Rasa kagum dihatinya berubah menjadi rasa ingin memiliki seutuhnya. Sehari saja ia tak ingin berada jauh dari Hanna. Entah susuk apa yang dipakai Hanna sehingga membuatnya selalu ingin berada disampingnya, menatap mata beningnya, dan mendengar halus suaranya. Ia berkeinginan untuk meminang Hanna dan menjadikannya pendamping hidup untuk selamanya. Ia sudah tidak tahan berlama-lama hidup membujang. Lagipula umurnya sudah semakin matang dan ayahnya yang sudah sering sakit-sakitan selalu mendesaknya untuk segera menikah. Pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi, ia terus menerus memikirkan masalah ini. Hingga pada akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk segera meminang Hanna. Niatnya itu ia sampaikan pada sang ayah tercinta. Ayahnya yang memang sudah ingin melihat anaknya berumah tangga tidak bisa melakukan hal lain selain memberinya restu. Pada hari itu juga, Bawor segera berangkat ke pasar dan membeli sebuah cincin emas bermata merah. Rencananya, cincin itu akan ia gunakan untuk melamar Hanna. Dengan hati berbunga, Bawor pulang dari pasar mengendarai sepedanya. Senyuman lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Sore nanti, ia akan mengajak salah satu kakak laki-lakinya ke rumah Pak Haji Zulkifli untuk melamar Hanna. Dalam benaknya, ia terus membayangkan bagaimana wajah Hanna yang tersenyum tersipu sambil menganggukan kepalanya saat ia menyampaikan niat untuk melamarnya. Ah, ia benar-benar sudah tidak sabar menunggu waktu sore datang.
Bawor menghentikan sepedanya ketika melewati rumah Pak Haji Zulkifli. Ia mengernyit heran ketika melihat dua buah mobil mewah terpakir rapi dihalaman rumah Pak Haji. ‘Mobil milik siapa itu? Tidak biasanya Pak Haji Zulkifli menerima tamu dari kota?’ Bawor bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaannya terjawab ketika dari kejauhan ia melihat seorang pria tampan berkemeja putih keluar dari rumah Pak Haji bersama bidadari pujaannya, Hanna. ‘Siapa gerangan pria yang bersama Hanna itu? Mengapa mereka berdua terlihat akrab sekali?’ Gumam hatinya lagi. Perasaan cemburu perlahan menyusup kehatinya. Ia tidak rela melihat bidadarinya bercengkrama begitu akrab bersama pria lain. Namun ia segera menyingkirkan perasaan itu. Ia tidak mau berprasangka negatif pada Hanna. ’Mungkin saja itu kakak atau keponakannya.’ Bisik Bawor mencoba menenangkan hatinya. Namun hatinya belum bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya sosok pria yang bersama Hanna. Ia pun mencoba bertanya kepada Yu Lastri, seorang pekerja dirumah Pak Haji yang kebetulan melintas didepannya.
“Yu Lastri!” Panggil Bawor. Perempuan yang disapa Yu Lastri itu segera menghampiri Bawor.
“Ada apa, mas Bawor?” tanya Yu Lastri.
“Saya mau tanya, tamu dirumah Pak Haji itu siapa ya?” Bawor bertanya tanpa basa-basi.
“Ohh,, itu. Mereka keluarganya Mbak Hanna yang datang dari kota.”
Bawor mengangguk-angguk mendengar jawaban Yu Lastri. Kemudian ia lanjut bertanya, “Lalu pria yang sedang bersama Hanna itu siapa? Kakaknya?”
“Lha, ya bukan. Dia namanya Mas Ridlo, calon suaminya Mbak Hanna.”
JDEERR!!
Bawor seperti tersambar petir disiang bolong mendengar jawaban yang meluncur dari mulut Yu Lastri. Tubuhnya lemas seketika. Dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri, seakan sedang diiris-iris dengan pisau dapur yang habis dipakai untuk mengiris cabe. Tanpa basa-basi lagi, ia segera mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh. Tak ia pedulikan teriakan-teriakan Yu Lastri yang memanggilnya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah segera sampai dirumah dan menumpahkan seluruh kesedihannya.
Bawor segera masuk dan mengunci pintu kamarnya begitu ia sampai dirumah. Ia menghiraukan ayah dan kakaknya yang menatapnya heran. Tanpa bisa dibendung lagi, air matanya tumpah ruah membasahi seluruh wajahnya. Ia terisak dengan begitu keras hingga suaranya mungkin terdengar sampai keluar. Diambilnya cincin bermata merah yang baru ia beli di pasar dari dalam sakunya. Ia pandangi cincin tersebut dengan hati yang hancur. Sejurus kemudian, ia lemparkan cincin itu kesudut kamarnya. Hatinya sungguh perih. Bidadari bermata bening yang sangat ia puja-puja ternyata sudah menjadi calon istri orang lain. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu cepat mengambil keputusan untuk meminang Hanna tanpa mengetahui status gadis tersebut. Akibatnya, ia harus kembali merasakan pahit seperti kisah-kisah cintanya dimasa lalu. Kali ini, Bawor gagal lagi dalam bercinta. Mungkin Yang Kuasa masih ingin menyembunyikan sosok pendamping hidupnya, atau siapa tahu mungkin Dia hendak mempertemukan Bawor dan bidadarinya disurga kelak. Entahlah, Wallahu A’lam.
09 September 2014
*** 

Labels: ,

23 October 2017

Jendelaku, Harapanku

Sumber foto : Google
JENDELAKU, HARAPANKU

Napasnya tergesa-gesa, tatapannya pun terlihat banyak asa. Jam dinding membisu tanpa pamit terlebih dahulu. Setidaknya tersenyum dulu sebelum lenyap dalam pilu.

"Ah.. Detikmu masih saja berjalan"

Untuk apa aku bersembunyi lagi, detik jam ku saja masih setia dalam tugasnya, yang selalu membagi irama setiap detik. Karena ia, aku terhibur dibalik terik kejamnya Bintang Raksasa di siang hari.

"Ini balas dendam tadi malam ? Karena malam ambil keputusan untuk mendung"

Rupanya kerlap-kerlip itu bergabung jadi satu kala siang hari. Hingga tubuhku mandi dengan deritanya.

Kapan senja tiba ? Raksasa itu masih tegak disebelah barat. Bahkan sinarnya menusuk tembus jendela kesayanganku, jendela satu-satunya milikku, napas terbesar disetiap harapanku.

"Ooh ternyata senjanya ia akan datang"

Jam dindingku mulai tersenyum bangkit kembali setelah mengusir ilusi.

"Hei cepatkan detikmu ! Aku tidak sabar lagi melihat Raksasa itu lenyap"

Keringatku mulai menguap berbaur dengan angin sepoi yang tiba-tiba bertamu lewat jendelaku. Rupanya jam dindingku mengabulkan pintaku.

"Jendela.. Hariku hanya untuk melihatmu tak tertusuk tajamnya sinar Bintang Raksasa, aku hanya ingin kita bersama melihat, menikmati Bintang Kecil penuh rasa saja. Napas segarmu, sungguh menggairahkan. Memaksaku menghirup dan akhirnya ku ikhlas jika kau selalu memaksa"


23102017

Labels: ,

20 October 2017

Film Sang Kiai, Hipnotis Ribuan Santri Peserta Jambore GMNU Ajibarang

Film Sang Kiai, Hipnotis Ribuan Santri Peserta Jambore GMNU Ajibarang


Sesi pemutaran film Sang Kiai oleh panitia kegiatan jambore hari santri GMNU Ajibarang, Sabtu (20/8) malam, berhasil menghipnotis ribuan santri peserta jambore untuk menontonnya.

Film dokumenter yang menceritakan tentant sejarah Nahdlatul Ulama dalam mengobarkan resolusi jihad itu memang layak ditonton, kata Kordinator GMNU Ajibarang Slamet IA ketika ditemui disela-sela acara.

Pasalnya, film tersebut memberikan banyak pengetahuan tentang sejarah Nahdlatul Ulama dalam membela kemerdekaan Indonesia. Lanjut Slamet.

Seperti telah banyak diketahui, banyak sejarah Nahdlatul Ulama yang seoalah-olah ditutupi dan tidak dipublikasikan, melalui nonton barang film Sang Kiai, kita berikan pelajaran sejarah kepada mereka.

"Sejarah yang tak pernah didapatkan di bangku sekolah," Jelas pria yang akrab disapa Sang Gembala.



Kifayatul Ahyar 

Labels: , , ,

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang


Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang


Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan NU se Kecamatan Ajibarang mengikuti kegiatan Jambore Hari Santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama  (GMNU) Ajibarang. Di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, Jum'at - Ahad (20 - 22/8).

Selain santri, jambore tersebut juga diikuti oleh kader-kader IPNU IPPNU, GP Ansor, Banser, Fatayat, dan Fatser yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FK GMNU) KecamatannAjibarang.

Kunarso, ketua panita kegiatan dalam sambutannya mengatakan "Kegiatan Jambore Hari Santri ini bertujuan untuk mengenang peristiwa resolusi jihad para santri dan kiai 22 Oktober" katanya.

Selain itu juga untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam jihad mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Lanjut Kunarso dihadapan ribuan peserta jambore, Jum'at sore (20/8).

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang berharap, kepada seluruh peserta yang mengikuti untuk menggunakan acara jambore ini sebagai tempat silaturahmi dan konsolidasi antar badan otonom dan selalu nahdliyin di Kecamatan Ajibarang.

"Intinya, harus menggunakan momentum ini untuk saling bersilaturahmi dan merapatkan barisan," kata Slamet ketika ditemui usai upacara pembukaan jambore.

Slamet juga berpesan, kepada seluruh peserta jambore agar mengikuti semua kegiatan yang ada dari awal, sampai penutupan.


Kifayatul Ahyar 

Labels: , , ,

19 October 2017

Ayo Ikut, Contest Selfie dan Foto Apik Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang 2017


Lomba Selfie Dan Foto Kegiatan Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang 2017


Memeriahkan kegiatan Jambore Hari Santri Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang akan digelar di Lapangan Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang, Jumat - Ahad 20-22 Oktober 2017.

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang mengelar lomba selfie dan foto kegiatan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Peserta adalah warga NU Kecamatan Ajibarang, baik dari unsur Badan Otonom ( IPNU IPPNU, Fatayat, GP Ansor, Muslimat, NU) semuanya boleh ikut.
2. Foto diambil pada saat kegiatan berlangsung, dari mulai pembukaan sampai penutupan.
3. Upload foto yang kalian ke Instagram lalu dishare ke Facebook kalian atau di Facebook langsung
4. Cantumkan Hastag #JamboreHariSantri #GMNUAjibarang serta nama banom yg kalian ikuti
5. Berikan caption yg menarik pada foto yang kalian upload
6. Boleh meng upload lebih dari satu foto
7. Editing boleh, asal tidak berlebihan
8. Boleh menggunakan kamera apa saja, termasuk kamera ponsel

Unsur penilaian : Keindahan, Komposisi, dan Ke orisinilan foto. Juga dari banyak Like serta komentar yang ada.

Juri Lomba : Mas Boby (Alumni Institut Kesenian Jakarta) Serta dari unsur PAC IPNU IPPNU Ajibarang

10 Foto terbaik akan mendapatkan bingkisan dari Panitia Lomba

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Jangan ragu-ragu, ayo segera Upload foto kalian. Jangan lupa cantumkan hastag dan caption yang menarik.

Selamat menjepret.

Info wa (087837093735).









Labels: , ,

18 October 2017

Saya Pribumi, Saya Menolak PLTPB Gunung Slamet


Saya Pribumi, Saya Menolak PLTPB Gunung Slamet


Wikipedia menjelaskan bahwa : Pribumi, orang asli, warga negara asli atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etins yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya.

Wikipedia juga menjelaskan, Pribumi itu bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut.

Secara politis, istilah pribumi dipakai para kolonialis Belanda, sebagai istilah bahasa melayu untukmenyebut Inlanders sebagai salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara.

Oleh karena itu, penduduk Indonesia keturunan Cina, India, Arab (semuanya dimasukkan dalam satu kelompok, Vreemde Oosterlingen), Eropa, maupun campuran sering dikelompokkan sebagai non-pribumi meski telah beberapa generasi dilahirkan di Indonesia.

Pengelompokan ini menurut Wikipedia dalam idea tidak rasistis, karena dapat terjadi perpindahan dari satu kelompok ke kelompok lain, tetapi dalam praktik menjadi rasistis karena terjadi pembedaan penempatan dalam publik, perbedaan pengupahan/penggajian, larangan penggunaan bahasa Belanda untuk kelompok tertentu, dan sebagainya.

Jika mengacu pada pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan (untuk diri saya sendiri) jika, bapak saya lahir di Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, ibu saya juga lahir di Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas dan saya pun lahir juga di Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas.

Berarti benang merahnya adalah saya merupakan pribumi asli Banyumas, asli lahir di Banyumas, menjadi salah satu bagian dari ribuan warga Banyumas, dan kini saya menyebut diri saya sendiri sebagai Wong Banyumas.

Terkait proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet, sebagai wong Banyumas saya mengatakan bahawa Saya Menolak proyek pembangunan PLTPB Gunung Slamet tersebut.

Kenapa saya menolak? Pertanyaan tersebut mungkin muncul dipikiran para pembaca sekalian. Baiklah, akan saya kupas nanti pada artikel saya edisi selanjutnya.

Seruput kopinya dulu...
Semoga Slamet tetap Slamet.
#SaveSlamet

19 Oktober 2017

Labels: , , , ,

TAKE THE LEAD : Ber Dansa Untuk Kehidupan, Pendidikan, Dan Kemanusiaan.



Menonton film Take The Lead membuat saya tersenyum, tertawa dan meringis sendiri. Bukan karena filemnya lucu atau kocak tetapi jalan cerita yang disuguhkan sangatlah apik, menarik dan menghibur.

Take The Lead Bercerita tentang seorang penari dansa profosional yang sangat disegani dan terkenal bernama Piierre Dulane yang diperankan oleh Antonio Banderas. Namun demikian tak lantas membuat Piierre Dulane meras cukup dan berpuas hati.

Hingga pada suatu hari dia membuat keputusan yang banyak ditertawakan oleh orang, yaitu menjadi Guru dansa di sebuah sekolah tingkat SMU dikawasan kumuh di New York City, dengan sukarela tanpa mengharap bayaran sedikitpun.

Ternyata keputusanya itu ditertawkan juga oleh murid-muridnya, tapi bukan karena ia mengajar dengan sukarela melainkan karena tarian dansa lebih lekat dikenal sebagi tarian kelas menengah atas orang-orang kulit putih. Para murid di detation class merasa itu semua hanya lelucon belaka.

Tanpa pikir panjang, ia mulai menunjukan kemahiranya dalam menari walaupun tak ada muridnya yang memperhatikanya. Tapi berkat kerja keras dan ketekunanya itu terlihat mulai berhasil, murid muridnya mulai mau belajar menari bersamanya. Sekaligus membuat mereka menyadari bahwa tarian itu adalah milik semua orang dan tidak dimiliki khusus oleh siapapun.

Apalagi kenyataanya mereka menari bukan sekadar menari, melainkan bisa merubah semua sisi kehidupan dan masa depan mereka yang lebih baik. Kesempatan itu sangat terbuka ketika mereka memutuskan untuk mengikuti lomba tari tingkat nasional.

TAKE THE LEAD adalah sebuah film drama musikal yang terinspirasi dari kisah nyata.

Tetapi Dibalik semua itu tersirat sebuah misi perjunagn yang dilakuan oleh Pierre Dulane untuk mengembalikan hak-hak anak itu, untuk menjadi dirinya sendiri. Yang laki-laki supaya bisa menjadi pelindung bagi perempuan, dan yang perempuan supaya merasa aman dan percaya diri.

Apa yang terjadi ketika merka memutuskan mengkuti lomba dansa tingak nasional dan melawan orang-orang kulit putih yang telah memandang sebelah mata mereka. Saat meraka yang berada dikelas terbuang bangkit dan membuktikan kalau mereka juga punya masa depan. ternyata hidup tak semudah itu.

Film Take the Lead bukanlah hanya soal dansa semata, tetapi juga soal hidup, soal pencarian jati diri, bahwa di dalam setiap diri manusia yang keras, pasti ada sesuatu di dalamnya yang ternyata lembut dan manis.

Satu lagi yang saya ingat, tarian dansa dan musik salsa nya benar-bener indah dan enak dinikmati.

Karangnagka (13:18)

Labels: , ,

16 October 2017

Al-Muallaqat : Anugerah Sastra Zaman Jahiliah


Perjalanan sastra Arab sudah dimulai sejak masa Jahiliah atau bahkan sebelumnya. Hampir semua buku menyebutkan sastra Arab dimulai dari masa Jahiliah, namun demikian tidak ada yang dapat menjelaskan titimangsanya. Hal itu terjadi karena sastra sudah muncul jauh sebelum sastra Arab menjadi sebuah kajian ilmu. 

Dalam khazanah kebudayaan Arab klasik, tradisi penulisan puisi dan penghargaan terhadapnya sangat diangungkan. Sehingga lahir sebuah jargon yang terkenal di dalam masyarakat "Asy-syi'ru Diwanul Arab" (Puisi adalah rumah bagi bangsa Arab). Dari jargon tersebut lahir sebuah asumsi bahwa puisi-puisi yang ditulis ulang dan dinisbahkan sebagai karya para penyair di kalangan mereka dapat diposisikan sebagai menara peradaban. 

Al Muallaqat adalah nama sebuah penghargaan sastra tertinggi pada zaman Jahiliah. Syair-Syairnya diyakini adiluhung dan sakral, ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding Ka'bah; dipuja dan disembah bak berhala oleh orang-orang Arab Pra-Islam. 

Karya sastra itulah yang menjadi titik awal sejarah sastra Arab. Adalah menjadi hal yang masuk akal bila kemudian kitab suci Al-Quran (Kalamullah yang memiliki nilai sastra tinggi) diturunkan setelah masyarakat Arab melewati peradaban sastra yang panjang dan luhur. 

Buku Syair-Syair Arab Pra-Islam: Al-Muallaqat yang diterjemahkan oleh Bahcrum Bunyamin dan Hamdy Salas merupakan buku terjemahan pertama dalam bahasa indonesia. Selain berisi terjemahan syair-syair, buku setebal 84 halaman itu juga dilengkapi dengan profil para penyar-penyairnya sekaligus seperti : 

Umru Ul-Qais (Penyair Mabuk  dari Lembah ke Lembah), Tarafah Bin Abid (Penyair Bengal yang Dipenggal Kepalanya), Harits Bin Khillizah (Penyair Lepra dengan Wajah Bertudung), Amru Bin Kultsum (Penyair Hero yang Membunuh Sang Raja), Zuhair Bin Abi Sulma (Penyair Budiman di Tengah Perang), Antarah Bin Syaddad (Penyair Legendaris dalam Cinta), dan Labid Bin Rabiah (Penyair Jalanan yang Hidup di Dua Zaman). Sehingga bisa menambah wawasan kita terhadap tokoh-tokoh sastra Arab masa lampau. 

Tak lupa, pada bagian akhir buku ini juga dilengkapi dengan teks Arab asli Al-muallaqat As-Sab'u. Semakin bisa menambah aroma padang pasir disetiap lembar demi lembar buku terjemahan sastra Arab tersebut. 

Bagi anda yang ingin mengetahui sejarah peradaban sastra Arab pada masa lampau, buku ini bisa menjadi titik awal anda memahaminya. Teruntuk juga bagi anda para penikmat sastra, buku ini sangat cocok sekali untuk anda dibaca. 



Peresensi : Kifayatul Ahyar (Kontributor NU Online) 
Tingal di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 
Judul buku : Syair-Syair Arab Pra-Islam : Al Muallaqat 
Penulis / Penerjemah : Bahcrum Bunyamin dam Hamdy Salad 
Penerbit : Gading Pustaka Yogyakarta. Cetakan Pertama, Agustus 2017


Labels: , , ,

15 October 2017

Menyambut Gagap Gempitanya Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang



Di kotaku, persiapan untuk merayakan harinya orang-orang yang identik dengan peci,sarung,kitab kuning, dan pesantren itu sudah dilakukan jauh-jauh hari. Bukan hanya sebulan atau dua bulan, melainkan sejak hampir setahun silam, perencanaan kegiatan akbar itu mulai digerengseng kan.

Dengan memanfaatkan aplikasi pesan chat berbasis group, disebuah platform media sosial bernama WhatsApp yang sekarang berkembang pesat bak jamur dimusim penghujan, kegiatan akbar memperingati hari santri Nasional itu komunikasikan.

Hari demi hari, bulan demi bulan dilewati. Dua purnama seperti didalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) mungkin terlalu lama. Melainkan hanya berselang satu bulan sebelum hari H pelaksanaan, terbentuk kepanitiaan yang akan menjadi lakon sekaligus sutradara dalam hajat akbar memperingati resolusi jihad para santri dan kiai.

Tak main-main rupanya, seperti namanya Generasi Muda Nahdlatul Ulama, generasi dimana idealisme menjadi tolak ukur pemikiran mereka, dalam spektrum yang kecil, mereka pernah menggentarkan panggung karnaval Ajibarang yang dihelat oleh pemerintah Kecamatan untuk memperingati hari kemerdekaan.

Disaat yang lain dengan sangat PD nya menampilkan kehebatan yang mereka miliki, baik itu prestasi, penghargaan dan berbagi macam atraksi, mereka justru tampil dengan masa hijaunya menyuarakan Tolak Full Day School. Sampai-sampai seorang juri berkata "kon pada melu karnaval malah demo" ("untuk ikut Karnaval, malah demo")

Kembali lagi keatas, 20 - 22 Oktober 2017 nanti, mereka akan kembali menggetarkan jagad Ajibarang dengan kegiatan Jambore Santri yang akan dihelat di lapangan Desa Pandansari. Ribuan peserta se Kecamatan Ajibarang akan mengikuti kegiatan tersebut. Dari mulai siswa madrasah, hingga Rais Syuriah akan mengikutinya.

Tak ketinggalan, sayap pelajar NU dengan IPNU dan IPPNUnya, sayap pemudanya dengan GP Ansor, juga pasukan doreng baret hitam Banser. Para pemudi-pemudi cantik Fatayat NU, serta pasukan pemudi gagah berseragan mirip polwan namun tetap feminim dengan Fatser NUnya, serta ibu kita yang tetap harum namanya Muslimat.

Mereka semua akan mengikuti jambore, atau kemah atau pramuka serta apel akabr memperingati hari santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang pada 22 Oktober 2017 mendatang.

Berbagi even dan rangkaian kegiatan juga telah direncanakan, dari mulai pertunjukan seni hingga festival 1000 hadroh serta orasi kesantrian dan kebudayaan akan digelar untuk meramaikan kegiatan yang rencananya akan menjadi agenda rutin setiap tahunnan.

Namun semoga bukan hanya sekedar gagap gempita nya sebuah acara peringatan hari santri, melainkan juga bisa menladani, mengurai makna dan mencari arti dari nilai nilai luhur kesantrian dan kepesantrenan yang dapat kita ambil dari dari sejarah hari santri Nasional untuk generasi muda NU dimasa datang.


Tulisan ini saya persembahkan khusus bagi mereka Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang, segenap panitia, peserta, juga faunding father GMNU Ajibarang Bapak Slamet Ibnu Ansori yang selalu menjadi teman diskusi dan tak pernah bosan menemani saya ngopi, sembari sesekali tertawa untuk ngulet dan bersiap untuk langkah selanjutnya.

Sekian,
Jingkang, 16 Oktober 2017

Labels: , , , ,

07 October 2017

Saat KH Saifuddin Zuhri Bingung Tentang Golongan Keluarganya





Saat KH Saifuddin Zuhri Bingung Tentang Golongan Keluarganya

KH Saifuddin Zuhri kecil pernah merasa bingung dengan status sosial atau golongan keluarganya, beliau bingung dari golongan manakah ia dilahirkan, pedagangkah atau petanikah?.

Hal tersebut beliau ceritakan sercara apik dibagian awal buku An Authorizes Memoris KH. Saifuddin Zuhri "Berangkat Dari Pesantren" yang beliau tulis pada tahun 1979.

Waktu itu, Saat usianya baru 11 tahun, Saifuddin kecil baru saja meyelesaikan Sekolah Dasar Bumiputra, seperti sekolah-sekolah pada umumnya sekarang, sebagai tanda telah meyelesaikan studinya maka seorang siswa atau murid akan menerima ijazah tenda kelulusan dari sekolahnya tersebut, Saifuddin kecil menyebutnya sebagai sertifikat.

"Tak keliru aku menyebut "sertifikat" bukan "diploma", karena jenis sekolah yang kumasuki adalah Sekolah Dasar Bumiputra, tempat belajarnya anak-anak rakyat,"

Didalam sertifikat tersebut ada satu kolom keterangan tentang golongan keluarga atau status pekerjaan orang tua yang nanti akan ditanyakan oleh guru sekolahnya. Hal itulah yang membuat KH Saifuddin Zuhri bingung, jika gurunya menayangkan hal tersebut.

KH Saifuddin Zuhri lahir di Desa Kauman, Kota Kawedanan Sokaraja (Sekarang Kecamatan Sokaraja), 9 KM ke utara dari Banyumas, Jawa Tengah pada tangal 1 Oktober 1919. Ia adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Haji Muhammad Zuhri dan Siti Saudatun.

Haji Muhammad Zuhri adalah seorang petani yang taat dalam menjalankan syariah agama, ayahnya adalah Haji Abdurrasyid, salah satu tokoh terpandang di Sokaraja pada masa itu.

Sedangkan ibunya, Siti Saudatun adalah  seorang pengrajin batik. Baik tulis karya ibunya digemari oleh orang-orang di desanya, termasuk para priyayi atau orang-orang berada menyukai batik karya Siti Saudatun.

Ayah Siti Saudatun adalah Mas Amari, KH Saifuddin Zuhri memanggilnya dengan sebutan Eyang Kakung. Mas Amari merupakan keturunan seorang priyayi, namun ia memilih hidup sebagi saudagar. Ia tinggal di Purbalingga, kota dimana ibunya KH Saifuddin Zuhri dilahirkan.

Bayang-bayang pertanyaan guruku tentang masuk "golongan apakah dua orang tuaku" itu terus saja menggoda dikepala. Namun akhirnya kuputuskan untuk mengabaikannya. Aku tidak mau diganggu oleh pertanyaan seperti itu. Golongan apa pun orang tuaku, jadilah. Yang pasti, orang tuaku golongan orang yang baik-baik. Aku sangat mencintai mereka, aku bangga memiliki orang tua seperti mereka.

Labels: , ,

06 October 2017

Energi Terbarukan, Dari Sampah Menjadi Berkah



Seorang Warga Banyumas, Berhasil Mengolah Kotoran Kambing Menjadi Gas

Bagi sebagian orang, kotoran kambing atau "Bribil" mungkin hanya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk berbagai macam tanaman. Namun hal itu berbeda bagi Warseno (46) warga RT 01 RW 11 Desa Chionje Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kotoran kambing yang semula hanya bisa dimanfaatkan sebagi pupuk alami saja, kini ditanganya kotoran kambing tersebut telah ia ubah menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masak-memasak.

Sudah setahun lebih Warseno dan keluarganya mengunakan biogas dari kotoran kambing untuk memasak. Warseno mengaku "Sejak Bulan Mei 2016 lalu saya mencoba membuat biogas, sampai saat ini sudah setahun lebih saya dan keluarganya mengunakan biogas untuk memasak,"katanya.

Selain mengubahnya menjadi biogas, dengan alatnya yang sederhana itu Warseno juga berhasil mengubah kotoran kambing menjadi pupuk organik yang dihasilkan dari proses pembuatan biogas tersebut.

Warseno menjelaskan, "Gas yang dihasilkan oleh kotoran kambing dialirkan melalui paralon, lalu ditampung di wadah besar sebelum masuk ke dapur. Kemudian cairan dan kotoran dialirkan ke penampungan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, dan ini sangat bermanfaat untuk tanaman,".

Dalam waktu sehari, gas yang dihasilkan dari kotoran kambing tersebut, kata Warseno bisa digunakan selama empat jam untuk memasak. Dua jam dipagi hari, dan dua jam lagi disore hari, hal itu menurutnya sangat membantu untuk menghemat biaya rumah tanganya.

Kini, berkat ketekunanya membuat biogas itu, pria berusia 46 tahun yang pernah mengenyam pendidikan pertanian di Australia tersebut sering diundang kebeberbagi daerah untuk memberikan pelatihan biogas kepada masyarakat.

"Silakan buat siapa saja yang mau belajar tentang biogas ini saya siap untuk membantu, membagi pengalaman saya.
Kepada pemerintah khususnya pemerintah desa,  saya harap untuk terus mendukung dan membantu apabila warganya berminat untuk membuat biogas seperti ini. Karena terus terang untuk pengadaan peralatan cukup memakan biaya,” Harapnya kepada pemerintah.


Labels: