Bawor. Begitulah biasanya ia dipanggil. Pria berperawakan pendek dan gemuk, mirip seperti tokoh punakawan dalam cerita pewayangan yaitu Bawor atau Bagong. Ia hanyalah seorang penjual sayur di pasar. Meski tak setampan Shah Rukh Khan, namun ia cukup terkenal dikampungnya. Banyak orang yang suka padanya karena kejujuran dan kebaikan hatinya.
Diumurnya yang hampir kepala tiga, Bawor belum memiliki pendamping hidup. Bukannya ia tidak laku, ia hanya terlalu takut untuk kembali menjalin hubungan dengan seseorang. Kisah-kisah cintanya yang tragis dimasa lalu membuatnya trauma untuk sekedar melakukan pendekatan dengan seorang gadis. Sudah terhitung tiga kali ia gagal dalam merajut kisah cintanya. Kisah cinta pertamanya ia jalin dengan seorang wanita bernama Menur. Gadis sederhana yang tinggal sekampung dengannya. Satu tahun menjalin cinta dengan Menur, Bawor harus merasakan yang namanya sakit hati akibat perselingkuhan Menur dengan Parno, teman sesama penjual sayur dipasar. Hati Bawor sakit, seolah-olah ada sebuah tombak panjang dan berkarat menancap di ulu hatinya. Namun Bawor adalah pria yang kuat. Ia sama sekali tidak menaruh dendam dan dengan besar hati ia merelakan Menur untuk Parno.
Berbulan-bulan setelah hubungannya kandas dengan Menur, Bawor hidup sendiri tanpa adanya tambatan hati. Hingga pada akhirnya, Rohmah, gadis manis jebolan pesantren berhasil merebut perhatiannya. Ia jatuh cinta. Tak mau menunggu lama, ditahun kedua hubungannya dengan Rohmah, Bawor nekat mendatangi rumah gadisnya dan meminta restu pada kedua orang tuanya agar dapat segera meminang putri mereka. Niat Bawor disambut baik oleh kedua orang tua Rohmah. Mereka segera menetapkan tanggal yang baik untuk pernikahan Bawor dan Rohmah. Namun sepertinya Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Tepat seminggu sebelum hari pernikahan berlangsung, Rohmah harus lebih dulu dipanggil Yang Kuasa. Ia mengalami kecelakaan saat hendak berbelanja kepasar untuk membeli keperluan dihari pernikahannya. Bawor kembali merana, gadis pujaan yang sebentar lagi sah menjadi miliknya harus pergi mendahuluinya. Ia sempat mempunyai pemikiran untuk mengakhiri hidupnya dan pergi menyusul Rohmah ke surga, tetapi ia terlalu takut untuk melakukan itu. Ia takut berdosa dan ia takut mati. Bawor pun memutuskan untuk melanjutkan hidupnya sambil secara perlahan menghapus nama Rohmah dari hatinya, karena menurutnya berlarut-larut dalam kesedihan meratapi orang yang telah meninggal adalah hal yang sia-sia.
Empat tahun setelah kematian Rohmah, Bawor kembali melabuhkan hatinya pada seorang gadis berkulit hitam manis nan mungil bernama Sekar. Ia merupakan putri semata wayang dari Ki Braja, seorang dalang dari kampung tetangga. Selama satu tahun, hubungan Bawor dan Sekar berjalan mulus tanpa ada masalah. Selain karena Sekar dan Bawor saling mencintai, kedua orang tua merekapun sudah sama-sama memberi restu kepada keduanya untuk melangkah kejenjang pernikahan. Namun lagi-lagi badai kembali menghantam kehidupan cinta Bawor. Ditahun kedua hubungannya dengan Sekar, Bawor terpaksa harus menelan pil pahit dari kisah cintanya. Beberapa hari setelah acara lamaran, orang tua Sekar yang sangat memegang erat tradisi kejawen tiba-tiba memutuskan hubungan anaknya dengan Bawor secara sepihak lantaran perhitungan weton keduanya tidak cocok. Menurut perhitungan, jika Bawor dan Sekar tetap menikah, maka salah satu dari mereka atau keluarga mereka akan ada yang meninggal. Sebenarnya Bawor tidak terlalu mempercayai hitung-hitungan seperti itu. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan kedua orang tua Sekar bahwa nasib pernikahan mereka nantinya ada ditangan Tuhan, bukan ditangan hitung-hitungan bodoh seperti itu. Namun orang tua Sekar tetap bersikeras memutuskan hubungan keduanya. Bahkan ibu Sekar, Nyi Braja, mengancam akan bunuh diri jika hubungan keduanya tetap berlanjut. Ia ingat perkataan Sekar beberapa hari setelah hubungan mereka dipisahkan secara sepihak.
“Watak bapak dan biyungku itu keras, sulit untuk dilunakkan. Jika mereka ingin hubungan kita tidak berlanjut, yo wis kita turuti saja kehendak mereka. Aku takut kualat, mas.”
Bawor menyerah. Kata-kata yang meluncur disertai isakan kecil dari bibir gadis mungil itu membuatnya tidak bisa berbuat apapun selain menerima keputusan kedua orang tua Sekar.Perasaan kecewa, sedih, marah, sakit hati bercampur menjadi satu dan mengendap direlung hatinya. Tak henti-hentinya ia mengutuk hitung-hitungan laknat yang telah menghancurkan hubungannya dengan Sekar. Selama berhari-hari ia terus murung. Tak ada lagi senyum dan tawa yang selalu menghiasi wajah cerianya. Makan tak habis, tidur tak nyenyak, mandi pun tak basah. Siang dan malam ia habiskan untuk mengadu kepada Sang Pencipta mengenai nasib kisah cintanya yang harus berakhir dengan begitu tragis.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Meski luka hatinya belum sepenuhnya kering setelah hubungannya dengan Sekar diputuskan secara sepihak, namun nampaknya Bawor sudah kembali menjadi Bawor yang ceria seperti dulu. Seperti biasa, di pagi hari ia harus berangkat ke pasar menjual sayur-sayuran segar yang ia petik dari kebun kecil dibelakang rumah. Dengan sepeda ontel tuanya, ia menyusuri jalan-jalan berlubang yang digenangi air sisa hujan semalam. Jarak dari rumahnya ke pasar tidaklah begitu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, ia sudah sampai di pasar dan segera menggelar dagangannya. Sambil menunggu pembeli, Bawor duduk didepan lapak sambil melihat-lihat sekeliling pasar. Pada saat itulah matanya menangkap sesosok bidadari bermata bening dilapak penjual buah. Bawor terkesima, matanya tak pernah lepas menatap sang bidadari yang terlihat begitu anggun. Gamis panjang berwarna ungu muda dipadu dengan jilbab lebar berwarna senada tampak begitu serasi membalut tubuhnya. Wajahnnya yang putih bersih dihias sepasang mata sebening embun terasa bagai tiupan angin surga yang menyejukkan hati, dan tak lupa bibir semerah mawar yang selalu melengkung indah membuat ulat-ulat dihati Bawor bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah penuh warna. Tak henti-hentinya Bawor menggumamkan kalimat ‘subhananallah’ untuk memuji betapa indah bidadari yang berdiri tak jauh darinya. Bawor memegang dadanya yang entah mengapa tiba-tiba berdebar begitu kencang. Debaran yang sama seperti ketika ia pertama kali berjumpa dengan Sekar. Ia terus-menerus menatap sang bidadari yang kini berjalan kearahnya hingga ia tak menyadari bahwa sang bidadari telah berdiri dengan cantik dihadapannya.
“Ekhemm.” sebuah deheman halus mengembalikan Bawor kealam sadarnya. Ia segera berdiri dan memberikan senyum terbaiknya pada sang bidadari.
“A.. ada yang bisa saya bantu, mbak?” tanya Bawor berusaha santai, padahal hatinya berdebar bukan main.
“Beli sayur kangkungnya dua ikat ya, mas.” Alunan suara yang begitu lembut keluar dari bibir merah sang bidadari, menyapa gendang telinga Bawor dan membuatnya meleleh seketika.
“Baik, mbak.” Dengan cekatan, Bawor segera mengambil dua ikat kangkung dan memasukannya kedalam tas kresek. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyerahkan bungkusan tas kresek itu kepada sang bidadari bermata bening dihadapannya.
“Berapa semuanya, mas?” alunan lembut itu kembali terdengar.
“Empat ribu saja, mbak.”
“Ini uangnya, mas. Kembaliannya ambil saja.”
“Matur suwun, mbak”
Bidadari itu memberikan senyum manisnya, sebelum akhirnya pergi dari lapak Bawor. Mata Bawor terus mengikuti langkah sang bidadari hingga sosoknya tak terlihat lagi.
***
Bawor tidak bisa melupakan sang bidadari bermata bening sejak pertemuan mereka tadi pagi di pasar, Dikamarnya yang sempit, Bawor berbaring terlentang diatas tempat tidurnya dengan kedua tangan ia jadikan bantal. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar, sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Sudah hampir tiga jam ia seperti itu. Pertemuannya dengan bidadari bermata bening tadi pagi di pasar masih melekat indah dipikirannya. Bayangan tentang segala keindahan yang ada pada diri sang bidadari terus berputar diotaknya, seperti sebuah film yang diputar berulang-ulang. Suaranya yang merdu bagai dentingan harpa dari surga masih terngiang ditelinganya, membuat pikirannya kacau seketika. Lengkung manis dibibir merahnya bagaikan aliran listrik yang menggetarkan hati, membuatnya gelisah dan tak bisa memejamkan mata. Bawor sangat tahu gejala apa yang sedang ia rasakan. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya dimasa lalu, Bawor menyimpulkan bahwa gejala yang ia alami adalah gejala orang jatuh cinta. Ya, Bawor telah jatuh cinta pada seorang bidadari yang ia ketahui bernama Hanna. Ia mengetahui nama sang bidadari dari Mbok Surti, tetangga kampungnya yang juga berjualan dipasar bersamanya. Dari Mbok Surti pulalah Bawor mengetahui bahwa Hanna adalah keponakan Pak Haji Zulkifli, seorang tokoh ulama di kampungnya. Hanna datang ke rumah pamannya sekitar tiga hari yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Mesir dan berencana menghabiskan waktu liburnya dirumah sang paman sebelum kembali berangkat untuk melanjutkan S2-nya. Bawor semakin kagum pada sosok Hanna begitu mendengar cerita dari Mbok Surti. Bagaimana tidak kagum, Hanna adalah sosok yang begitu cantik ditambah lagi ia juga cerdas, keponakan dari seorang ulama pula, lelaki mana yang tidak akan jatuh hati padanya? Ah, Hanna memang begitu mempesona. Begitu kira-kira isi pikiran Bawor. Ia berharap esok hari dapat kembali bertemu dengan bidadari pujaannya.
***
Pagi ini Bawor begitu gembira. Selain dagangannya yang laris manis dan membuatnya bisa pulang lebih awal dari pasar, Sang Khaliq ternyata mengabulkan harapannya untuk bisa kembali berjumpa dengan Hanna. Ia sedang berada dikebunnya ketika melihat Hanna yang berjalan seorang diri entah akan kemana. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Bawor segera menegurnya.
“Selamat pagi, mbak. Mau kemana pagi-pagi begini?” sapa Bawor ramah.
“Ehh,, selamat pagi, mas. Saya mau mengantar pesanan kue kerumah Bu Tuti, tapi saya tidak tahu rumahnya.” Hanna menjawab sapaan Bawor dengan senyum indah menghiasi wajahnya.
“Kebetulan saya tahu rumahnya. Kalau mbak tidak keberatan, saya bisa mengantar mbak” tawar Bawor. Dalam hati ia berdo’a semoga Hanna tidak menolak tawarannya.
“Emm.. boleh, mas. Tapi apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak. Kebetulan pekerjaan saya sudah selesai. Mari, mbak.”
Hanna mengangguk, menerima tawaran Bawor. Hal ini membuat pria gembul itu girang bukan main. Ingin rasanya ia berlari keliling kampung sambil berteriak menyuarakan isi hatinya yang sedang berbunga. Namun ia masih punya harga diri, ia tidak mau dicap sebagai orang gila oleh warga kampung, sehingga ia menelan keinginannya tersebut.
Bawor dan Hanna berjalan beriringan menyusuri jalan setapak kecil yang berbatu. Bawor menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih mengenal Hanna. Sepanjang perjalanan, mereka terus bercengkrama. Tanpa Hanna ketahui, Bawor diam-diam memilih jalan memutar yang lebih jauh kerumah Bu Tuti. Alasannya tentu saja karena ia ingin berlama-lama bersama sang bidadari pujaan. Rumah Bu Tuti yang seharusnya hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari kebunnya, menjadi bermeter-meter jaraknya. Yah, namanya juga orang sedang kasmaran, pasti apapun akan dilakukan untuk bisa terus bersama dengan sang pujaan.
***
Tak terasa dua bulan sudah berlalu begitu cepat. Hubungan Bawor dan Hanna kini menjadi semakin akrab. Sesekali Bawor mendatangi rumah Pak Haji Zulkifli dengan membawa satu kantong plastik sayuran segar yang baru dipetik dari kebunnya. Alasannya sudah pasti untuk menemui Hanna. Terkadang Bawor juga rela menyempatkan waktunya untuk menemani Hanna mengantar kue pesanan ke rumah pelanggan Bu Hajah Siti. Semakin hari, Bawor semakin jatuh kedalam pesona seorang Hanna. Rasa kagum dihatinya berubah menjadi rasa ingin memiliki seutuhnya. Sehari saja ia tak ingin berada jauh dari Hanna. Entah susuk apa yang dipakai Hanna sehingga membuatnya selalu ingin berada disampingnya, menatap mata beningnya, dan mendengar halus suaranya. Ia berkeinginan untuk meminang Hanna dan menjadikannya pendamping hidup untuk selamanya. Ia sudah tidak tahan berlama-lama hidup membujang. Lagipula umurnya sudah semakin matang dan ayahnya yang sudah sering sakit-sakitan selalu mendesaknya untuk segera menikah. Pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi, ia terus menerus memikirkan masalah ini. Hingga pada akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk segera meminang Hanna. Niatnya itu ia sampaikan pada sang ayah tercinta. Ayahnya yang memang sudah ingin melihat anaknya berumah tangga tidak bisa melakukan hal lain selain memberinya restu. Pada hari itu juga, Bawor segera berangkat ke pasar dan membeli sebuah cincin emas bermata merah. Rencananya, cincin itu akan ia gunakan untuk melamar Hanna. Dengan hati berbunga, Bawor pulang dari pasar mengendarai sepedanya. Senyuman lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Sore nanti, ia akan mengajak salah satu kakak laki-lakinya ke rumah Pak Haji Zulkifli untuk melamar Hanna. Dalam benaknya, ia terus membayangkan bagaimana wajah Hanna yang tersenyum tersipu sambil menganggukan kepalanya saat ia menyampaikan niat untuk melamarnya. Ah, ia benar-benar sudah tidak sabar menunggu waktu sore datang.
Bawor menghentikan sepedanya ketika melewati rumah Pak Haji Zulkifli. Ia mengernyit heran ketika melihat dua buah mobil mewah terpakir rapi dihalaman rumah Pak Haji. ‘Mobil milik siapa itu? Tidak biasanya Pak Haji Zulkifli menerima tamu dari kota?’ Bawor bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaannya terjawab ketika dari kejauhan ia melihat seorang pria tampan berkemeja putih keluar dari rumah Pak Haji bersama bidadari pujaannya, Hanna. ‘Siapa gerangan pria yang bersama Hanna itu? Mengapa mereka berdua terlihat akrab sekali?’ Gumam hatinya lagi. Perasaan cemburu perlahan menyusup kehatinya. Ia tidak rela melihat bidadarinya bercengkrama begitu akrab bersama pria lain. Namun ia segera menyingkirkan perasaan itu. Ia tidak mau berprasangka negatif pada Hanna. ’Mungkin saja itu kakak atau keponakannya.’ Bisik Bawor mencoba menenangkan hatinya. Namun hatinya belum bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya sosok pria yang bersama Hanna. Ia pun mencoba bertanya kepada Yu Lastri, seorang pekerja dirumah Pak Haji yang kebetulan melintas didepannya.
“Yu Lastri!” Panggil Bawor. Perempuan yang disapa Yu Lastri itu segera menghampiri Bawor.
“Ada apa, mas Bawor?” tanya Yu Lastri.
“Saya mau tanya, tamu dirumah Pak Haji itu siapa ya?” Bawor bertanya tanpa basa-basi.
“Ohh,, itu. Mereka keluarganya Mbak Hanna yang datang dari kota.”
Bawor mengangguk-angguk mendengar jawaban Yu Lastri. Kemudian ia lanjut bertanya, “Lalu pria yang sedang bersama Hanna itu siapa? Kakaknya?”
“Lha, ya bukan. Dia namanya Mas Ridlo, calon suaminya Mbak Hanna.”
JDEERR!!
Bawor seperti tersambar petir disiang bolong mendengar jawaban yang meluncur dari mulut Yu Lastri. Tubuhnya lemas seketika. Dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri, seakan sedang diiris-iris dengan pisau dapur yang habis dipakai untuk mengiris cabe. Tanpa basa-basi lagi, ia segera mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh. Tak ia pedulikan teriakan-teriakan Yu Lastri yang memanggilnya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah segera sampai dirumah dan menumpahkan seluruh kesedihannya.
Bawor segera masuk dan mengunci pintu kamarnya begitu ia sampai dirumah. Ia menghiraukan ayah dan kakaknya yang menatapnya heran. Tanpa bisa dibendung lagi, air matanya tumpah ruah membasahi seluruh wajahnya. Ia terisak dengan begitu keras hingga suaranya mungkin terdengar sampai keluar. Diambilnya cincin bermata merah yang baru ia beli di pasar dari dalam sakunya. Ia pandangi cincin tersebut dengan hati yang hancur. Sejurus kemudian, ia lemparkan cincin itu kesudut kamarnya. Hatinya sungguh perih. Bidadari bermata bening yang sangat ia puja-puja ternyata sudah menjadi calon istri orang lain. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu cepat mengambil keputusan untuk meminang Hanna tanpa mengetahui status gadis tersebut. Akibatnya, ia harus kembali merasakan pahit seperti kisah-kisah cintanya dimasa lalu. Kali ini, Bawor gagal lagi dalam bercinta. Mungkin Yang Kuasa masih ingin menyembunyikan sosok pendamping hidupnya, atau siapa tahu mungkin Dia hendak mempertemukan Bawor dan bidadarinya disurga kelak. Entahlah, Wallahu A’lam.
09 September 2014
***