01 February 2019

Harlah ke-93 Tahun NU : Menyongsong Revolusi Industri 5.0



Awal dekade 1926, digelar sebuah rapat akbar antar ormas Islam dan alim ulama di Ciganjur, Jawa Barat. Rapat itu dilakukan untuk membahas kondisi sosial politik negara timur tengah yang sedang bergejolak karena pengaruh gerakan Islam puritan (Wahabi).

Raja Ibnu Sa'ud, dengan kebijakannya meratakan seluruh makam di sekeliling Ka'bah telah membuat gelisah ulamah-ulama Nusantara. Kiai Wahab Chasbulloh dalam rapat itu mengusulkan untuk mengirimkan utusan menghadap Raja Sa'ud untuk menjelaskan kondisi sosial dan praktik keagamaan di Nusantara.

Usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh golongan Islam pembaharu, seperti Al Irsyad dan Muhamadiyah. Dari penolakan tersebut kemudian merasa bahawa mereka harus bergerak sendiri,ll untuk menemui Raja Sa'ud untuk memperjuangkan kepentingan mereka.

Maka, pada 31 Januari 1926, dikutip dari K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Bapak dan Pendiri NU (1972) karya Saifuddin Zuhri, para kiai dari golongan tradisionalis  berkumpul di kediaman Kiai Wahab Chasbulloh dan memutuskan membentuk suatu organisasi kemasyarakatan Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah yang kelak dinamakan sebagai Nahdlatul Ulama atau “kebangkitan para ulama”.

Tanggal 31 Januari 1926 atau hari ini 93 Tahun yang lalu itu kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Nahdlatul Ulama (NU).

Jauh sebelum itu, upaya membentuk suatu perkumpulan atau organisasi sebenarnya telah dilakukan oleh Kiai Wahab dan KH Mas Mansyur seperti dikutip dari Ahmad Zahro dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (2004).Kiai Wahab telah mendirikan Nahdlatul Wathan yang artinya “kebangkitan tanah air” pada tahun 1914. Nahdlatul Wathan, menurut Martin van Brulnessen dalam bukunya  yang berjudul NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebut bahwa, Nahdlatul Wathan merupakan lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara. 

Sukses mendirikan Nahdlatul Wathan, sebagai pusat pendidikan Islam. Tahun 1918, Kiai Wahab mendirikan perkumpulan lagi, dikutip dari buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU (1985) karya Choirul Anam, organisasi itu bernama Nahdlatul Tujjar atau “kebangkitan para pedagang”. 

Tak berselang lama kemudian, di Surabaya berdiri suatu majlis Batsul Masail atau diskusi bernama Tasfirul Afkar. Sebuah madrasah yang didirikan sebagai tempat mengaji bagi anak anak muda yang diharapkan kelak mampu menjadi pelesatari ajaran Islam di Nusantara.

NU : Tradisionalis yang Modernis

NU dikenal sebagai organisasi Islam tradisional, dalam artian bahwa sebagaian besar anggotanya adalah orang-orang Desa, para petani, dan kiai kampung. Hal itu memang benar, karena Basis NU terbesar adalah di pelosok Desa-Desa dan di kampung-kampung.

Maka wajar, jika NU kantal dengan budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia. Misalnya, tahlilan, slametan, ziarah kubur dan ritual-ritual kebudayaan lainya yang telah diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam dengan tanpa menghilangkan nilai dari budaya itu sendiri.

Memelihara budaya lama yang baik, dan mengambil budaya baru yang lebih baik adalah semboyan yang melekat di NU, menjadi spirit untuk tetap nguri-uri kebudayaan Nusantara yang dimodifikasi dengan tambahan dengan spirit ke Islaman ala Ahlusunah Wal Jama'ah An Nahdilyah.

Dengan pedoman seperti itulah, maka tak sulit bagi masyarakat pedesaan untuk menerima NU di kehidupan sehari-harinya, bahkan semakin  memperkuat struktur sosial yang terbangun di lingkungan masyarakat.

Namun meski NU berbasis tradisionalis, tapi NU juga memiliki semangat modernitas yang tinggi. Dalam arti semangat untuk membangun peradaban kemanusiaan yang maju dan berkembang, tak ketinggalan zaman.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya berdiri perguruan tinggi NU diberbagai wilayah di Indonesia, dengan berbagai macam fakultas dan disiplin ilmu yang diajarkan, sebagai bekal untuk mewujudkan peradaban yang maju di semua aspek kehidupan masyarakat.

NU Menyongsong Revolusi Industri 5.0

Dalam acara peringatan ke 93 NU yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Jumat, 31 Januari 2019 kemarin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, dalam menyongsong satu abad NU. NU memiliki tantangan tak mudah terutama dalam menghadapi era revolusi industri.

Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air bagian dari iman) bukan sekadar jargon semata bagi warga NU, tapi juga sebagai pegangan untuk menghadapi revolusi industri five point zero (5.0) yang dituntut untuk memenuhi kekosongan kehidupan sosial, hubungan antarumat manusia, antarmanusia dan Tuhan serta humanity center.

Dalam menghadapi revolusi industri 5.0 di mana sebelum orang-orang memasuki era tersebut, NU telah mempersiapkannya, bahkan mengisinya.
Untuk itu, nasionalisme serta budaya spiritualitas yang dimiliki oleh masyarkat NU akan menjadi bekal dalam menyongsong revolusi industri 5.0 mendatang.


*Diolah dari berbagai sumber.

Labels: ,

05 December 2017

Tiga Tipe Manusia yang Tak Dapat Masuk Surga



Tiga Tipe Orang yang Tidak Dapat Masuk Surga Menurut Kiai Faturahman

Kiai Faturahman menjelaskan, ada tiga tipe orang yang tidak dapat masuk surga. Pertama adalah orang yang jahat kepada kedua orang tuanya, " Orang yang tidak birullwalaiden tidak dapat masuk surga," katanya. Karena ridlo allah terlek didalam ridlonya kedua orang tua.

Hal itu disampaikan beliau saat memberikan tausiyah memperingati maulid nabi Muhammad SAW di Masjid Baiturrahim Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, Rabu (29/11) siang.

Kedua, "Pemabuk yang mati dan belum sempat taubat," lanjut Kiai Faturahman. Pemabuk yang meninggal didalam keadaan mabuk dan belum sempat taubat, tidak akan bisa masuk surga, karena meninggalnya didalam keadaan yang su'ul khotimah.

Tiga, "Pezina yang mati dan belum sempat taubat juga," tambah Kiai dari Pekuncen Banyumas itu.

Pezina yang meningal dan belum sempat bertaubat juga tidak bisa masuk surga, karena perbuatan zina adalah dosa yang besar, sulit mendapatkan ampun dari Allah.

"Kecuali sebelum meninggal, dia sudah dihukum rajam terlebih dahulu," lanjut Kiai Faturahman.

Kiai Faturahman juga mengingatkan kepada Jamaah untuk jangan pernah men sia-siakan waktu hidup didalam dunia, Karena hidup didunia ini hanya sekali dan waktunya sebentar sekali "Gunakanlah waktu yang ada itu untuk lebih mendekat dan beribadah kepada Allah SWT," jelas Kiai Muda mantan Ketua GP Ansor Kabupaten Banyumas itu.

Labels: , ,

20 October 2017

Film Sang Kiai, Hipnotis Ribuan Santri Peserta Jambore GMNU Ajibarang

Film Sang Kiai, Hipnotis Ribuan Santri Peserta Jambore GMNU Ajibarang


Sesi pemutaran film Sang Kiai oleh panitia kegiatan jambore hari santri GMNU Ajibarang, Sabtu (20/8) malam, berhasil menghipnotis ribuan santri peserta jambore untuk menontonnya.

Film dokumenter yang menceritakan tentant sejarah Nahdlatul Ulama dalam mengobarkan resolusi jihad itu memang layak ditonton, kata Kordinator GMNU Ajibarang Slamet IA ketika ditemui disela-sela acara.

Pasalnya, film tersebut memberikan banyak pengetahuan tentang sejarah Nahdlatul Ulama dalam membela kemerdekaan Indonesia. Lanjut Slamet.

Seperti telah banyak diketahui, banyak sejarah Nahdlatul Ulama yang seoalah-olah ditutupi dan tidak dipublikasikan, melalui nonton barang film Sang Kiai, kita berikan pelajaran sejarah kepada mereka.

"Sejarah yang tak pernah didapatkan di bangku sekolah," Jelas pria yang akrab disapa Sang Gembala.



Kifayatul Ahyar 

Labels: , , ,

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang


Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang


Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan NU se Kecamatan Ajibarang mengikuti kegiatan Jambore Hari Santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama  (GMNU) Ajibarang. Di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, Jum'at - Ahad (20 - 22/8).

Selain santri, jambore tersebut juga diikuti oleh kader-kader IPNU IPPNU, GP Ansor, Banser, Fatayat, dan Fatser yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FK GMNU) KecamatannAjibarang.

Kunarso, ketua panita kegiatan dalam sambutannya mengatakan "Kegiatan Jambore Hari Santri ini bertujuan untuk mengenang peristiwa resolusi jihad para santri dan kiai 22 Oktober" katanya.

Selain itu juga untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam jihad mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Lanjut Kunarso dihadapan ribuan peserta jambore, Jum'at sore (20/8).

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang berharap, kepada seluruh peserta yang mengikuti untuk menggunakan acara jambore ini sebagai tempat silaturahmi dan konsolidasi antar badan otonom dan selalu nahdliyin di Kecamatan Ajibarang.

"Intinya, harus menggunakan momentum ini untuk saling bersilaturahmi dan merapatkan barisan," kata Slamet ketika ditemui usai upacara pembukaan jambore.

Slamet juga berpesan, kepada seluruh peserta jambore agar mengikuti semua kegiatan yang ada dari awal, sampai penutupan.


Kifayatul Ahyar 

Labels: , , ,

19 October 2017

Ayo Ikut, Contest Selfie dan Foto Apik Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang 2017


Lomba Selfie Dan Foto Kegiatan Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang 2017


Memeriahkan kegiatan Jambore Hari Santri Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang akan digelar di Lapangan Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang, Jumat - Ahad 20-22 Oktober 2017.

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang mengelar lomba selfie dan foto kegiatan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Peserta adalah warga NU Kecamatan Ajibarang, baik dari unsur Badan Otonom ( IPNU IPPNU, Fatayat, GP Ansor, Muslimat, NU) semuanya boleh ikut.
2. Foto diambil pada saat kegiatan berlangsung, dari mulai pembukaan sampai penutupan.
3. Upload foto yang kalian ke Instagram lalu dishare ke Facebook kalian atau di Facebook langsung
4. Cantumkan Hastag #JamboreHariSantri #GMNUAjibarang serta nama banom yg kalian ikuti
5. Berikan caption yg menarik pada foto yang kalian upload
6. Boleh meng upload lebih dari satu foto
7. Editing boleh, asal tidak berlebihan
8. Boleh menggunakan kamera apa saja, termasuk kamera ponsel

Unsur penilaian : Keindahan, Komposisi, dan Ke orisinilan foto. Juga dari banyak Like serta komentar yang ada.

Juri Lomba : Mas Boby (Alumni Institut Kesenian Jakarta) Serta dari unsur PAC IPNU IPPNU Ajibarang

10 Foto terbaik akan mendapatkan bingkisan dari Panitia Lomba

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Jangan ragu-ragu, ayo segera Upload foto kalian. Jangan lupa cantumkan hastag dan caption yang menarik.

Selamat menjepret.

Info wa (087837093735).









Labels: , ,

15 October 2017

Menyambut Gagap Gempitanya Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang



Di kotaku, persiapan untuk merayakan harinya orang-orang yang identik dengan peci,sarung,kitab kuning, dan pesantren itu sudah dilakukan jauh-jauh hari. Bukan hanya sebulan atau dua bulan, melainkan sejak hampir setahun silam, perencanaan kegiatan akbar itu mulai digerengseng kan.

Dengan memanfaatkan aplikasi pesan chat berbasis group, disebuah platform media sosial bernama WhatsApp yang sekarang berkembang pesat bak jamur dimusim penghujan, kegiatan akbar memperingati hari santri Nasional itu komunikasikan.

Hari demi hari, bulan demi bulan dilewati. Dua purnama seperti didalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) mungkin terlalu lama. Melainkan hanya berselang satu bulan sebelum hari H pelaksanaan, terbentuk kepanitiaan yang akan menjadi lakon sekaligus sutradara dalam hajat akbar memperingati resolusi jihad para santri dan kiai.

Tak main-main rupanya, seperti namanya Generasi Muda Nahdlatul Ulama, generasi dimana idealisme menjadi tolak ukur pemikiran mereka, dalam spektrum yang kecil, mereka pernah menggentarkan panggung karnaval Ajibarang yang dihelat oleh pemerintah Kecamatan untuk memperingati hari kemerdekaan.

Disaat yang lain dengan sangat PD nya menampilkan kehebatan yang mereka miliki, baik itu prestasi, penghargaan dan berbagi macam atraksi, mereka justru tampil dengan masa hijaunya menyuarakan Tolak Full Day School. Sampai-sampai seorang juri berkata "kon pada melu karnaval malah demo" ("untuk ikut Karnaval, malah demo")

Kembali lagi keatas, 20 - 22 Oktober 2017 nanti, mereka akan kembali menggetarkan jagad Ajibarang dengan kegiatan Jambore Santri yang akan dihelat di lapangan Desa Pandansari. Ribuan peserta se Kecamatan Ajibarang akan mengikuti kegiatan tersebut. Dari mulai siswa madrasah, hingga Rais Syuriah akan mengikutinya.

Tak ketinggalan, sayap pelajar NU dengan IPNU dan IPPNUnya, sayap pemudanya dengan GP Ansor, juga pasukan doreng baret hitam Banser. Para pemudi-pemudi cantik Fatayat NU, serta pasukan pemudi gagah berseragan mirip polwan namun tetap feminim dengan Fatser NUnya, serta ibu kita yang tetap harum namanya Muslimat.

Mereka semua akan mengikuti jambore, atau kemah atau pramuka serta apel akabr memperingati hari santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang pada 22 Oktober 2017 mendatang.

Berbagi even dan rangkaian kegiatan juga telah direncanakan, dari mulai pertunjukan seni hingga festival 1000 hadroh serta orasi kesantrian dan kebudayaan akan digelar untuk meramaikan kegiatan yang rencananya akan menjadi agenda rutin setiap tahunnan.

Namun semoga bukan hanya sekedar gagap gempita nya sebuah acara peringatan hari santri, melainkan juga bisa menladani, mengurai makna dan mencari arti dari nilai nilai luhur kesantrian dan kepesantrenan yang dapat kita ambil dari dari sejarah hari santri Nasional untuk generasi muda NU dimasa datang.


Tulisan ini saya persembahkan khusus bagi mereka Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang, segenap panitia, peserta, juga faunding father GMNU Ajibarang Bapak Slamet Ibnu Ansori yang selalu menjadi teman diskusi dan tak pernah bosan menemani saya ngopi, sembari sesekali tertawa untuk ngulet dan bersiap untuk langkah selanjutnya.

Sekian,
Jingkang, 16 Oktober 2017

Labels: , , , ,