15 January 2018

Suyar dan Susan Menatap 2018, Dari Pilkada Hingga Perihal Putus Cinta




Dua minggu berselang, kita semua telah menapaki tahun 2018, tahun dimana beberapa momentum akbar akan diselenggarakan kembali di negara yang kita cintai ini, salah satunya ialah Pilkada Serentak 2018. Adalah momentum pesta demokrasi rakyat dan sekaligus menjadi panggung pentas drama politik yang akan dibawakan oleh beberapa grup-grup politik dengan lakon-lakonya yang sudah disiapkan.

Tak terkecuali juga di Banyumas, perhelatan pesta rakyat itu juga akan dilaksanakan. Beberapa nama pasangan calon bupati dan wakil bupati jauh-jauh hari sudah banyak bermunculan, poster dan baliho sejak pertengahan tahun 2017 sudah banyak terpasang, di pinggir jalan, di perempatan, hingga di pohon rambutan dekat gang sempit masuk pedesaan.

Mungkin, karena namanya juga pesta rakyat, sehingga dari kalangan rakyat paling pelosok terpencil pun akan ikut merayakannya, walaupun mereka sendiri kadang tak paham dengan situasi pestanya, bahkan tak jarang juga hanya dimanfaatkan tenaga dan suaranya tanpa peduli atau mungkin sengaja tak dipedulikan dengan hal-hal yang lebih besar oleh para lakon-lakon politik yang sedang mereka tonton dan ikuti.

Sebagai seorang remaja yang kini mulai beranjak dewasa, mulai mengerti apa itu cinta, mulai kenal dengan yang namanya wanita, dan mulai bisa memahami kehidupan yang banyak dengan kepalsuan, dari soal politik, kebudayaan, hoax dan segala macam bentuk polesan make up  mempercantik kulit untuk menyembunyikan segala macam kebusukan didalamnya.

Suyar tumbuh dan berkembang layaknya remaja pada umumnya, ia mempunyai pacar bernama Susan, seorang mahasiswi semester akhir sebuah perguruan tingi islam di kotanya. Hubungan antara kedua remaja itu sudah terjalin lumayan lama, sekitar dua tahunan lebih dua bulan tepatnya.

Meski mereka berdua berpacaran, tapi mereka terlihat seperti tidak berpacaran, mereka berdua jarang mengumbar kemesraan di dunia nyata ataupun di dunia maya, bahkan mereka sering terlihat berdebat jika sedang membahas sesuatu yang entah itu ada hubungannya dengan mereka atau tidak.

Sore itu, Suyar dan Susan terlihat duduk berdua dibawa sebuah pohon jambe. Selepas menyantap mie ayam, mereka berdua tak memutuskan untuk langsung langsung pulang, mereka ingin sejenak menikmati senjakala, melihat matahari pulang ke peraduanya, menikmati cahaya kuning keemasan yang katanya pernah dipotong separo oleh seorang pemuda, lalu dimasukkan kedalam amplop dan dikirim lewat pos sebagai tanda cinta untuk pacarnya.

"Sudah tahun 2018 ya," Ucap Susan membuka perbincangan.

"Iya, bisa jadi itu menjadi ini tahun yang panas di kota kecil kita," Jawab Suyar pelan sambil menghisap rokoknya.

Susan memang bukan wanita biasa, ia merupakan aktivitas mahasiswa di kampusnya, sering mengikuti demo menentang kebijakan pemda, terlibat diskusi kebudayaan dan lain sebagainya, walaupun kadang nurani nya berontak dengan apa yang dia lakukan, tetapi Susan tetaplah Susan, wanita cerdas yang dengan singap langsung paham dengan jawaban pacarnya itu.

"Jagan sok tau mas, bisa juga kan adem ayam saja," Kata Susan menampik.

"Hmmm ya semoga, tidak sampai akar rumput yang merasakannya lah, sehingga wong-wong cilik seperti kita tidak terkena dampaknya,"

"Bagaimana jika kita nanti berbeda pilihan?" Tanya Susan serius

"Sudah biasa lah, tapi jangan bahas itu dulu, karena masih terlau dini untuk menentukan siapa memilih siapa,"

"Di koran-koran dan media online sudah banyak yang memberitakan, bahwa akan terjadi terjadi head to head,"

"Berarti kalau bukan memilih dia, ya memilih dia lagi,"

"Ada satu pilihan lagi?"

"Apa?"

"Golput,"

"Hahahahahahaha,"

Kedua remaja yang sedang memadu cinta itu tertawa, suaranya melengking menembus senjakala. Namun, lambat laun tawa mereka hilang ditelan gelapnya malam.



(Bersambung)

Labels: ,

27 November 2017

Wawan, Sang Nahkoda Baru GP Ansor Ajibarang



Wawan, Sang Nahkoda Baru GP Ansor Ajibarang


Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas baru saja menggelar acara konfrensi anak cabang (Konferancab) Minggu, (26/11) di Gelora Ajibarang Kulon.

Pada forum rapat tertinggi tingkat Kecamatan itu, Wawan Ibnu Fuad terpilih sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang periode 2017-2019.

Wawan terpilih melalui hasil musyawarah mufakat yang dipimpin oleh Pimpinan Cabang GP Ansor Banyumas bersama Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Ajibarang serta perwakilan dari ranting.

Terpilihnya Wawan sebagai Ketua GP Ansor Ajibarang yang baru diharapkan mampu meberikan warna yang lain bagi GP Ansor Ajibarang. Melihat sosoknya sebagai seorang pengusaha sukses di Kabupaten Banyumas, diharapkan bisa ditularkan kepada sahabat-sahabat Ansor yang lain.

Hal itu diungkapkan Kartim, salah satu peserta Konferancab dari ranting darmakradenan, "Wawan memiliki leader yang baik, juga seorang pembisnis yang semoga ilmunya bisa ditularkan kepada kami," katanya ketika ditemui usai acara.

Agus subeno, peserta Konferancab dari ranting Ciberung juga berharap, terpilihnya wawan sebagi ketua yang baru semoga bisa memberikan semangat yang lebih untuk mengembangkan lembaga perekonomian GP Ansor Ajibarang.

Konferancab yang dihadiri oleh 500an peserta dari ranting GP Ansor se Ajibarang itu, turut hadir pula Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah NU Ajibarang, PC GP Ansor Banyumas, serta jajaran Forkompimcab setempat.

Labels: ,

14 November 2017

Kata Pengantar Konferancab GP Ansor Ajibarang


Sebuah Kata Pengantar Untuk Sahabat-Sahabatku yang akan melaksanakan Konferancab GP Ansor Ajibarang


Sebuah forum rapat tertinggi tingkat anak cabang (Ancab) dari salah satu sayap organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang fokus menaungi kegiatan para pemuda itu sebentar lagi akan di adakan di Kecamatan Ajibarang.

Forum tersebut bernama Konferensi Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Ajibarang atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Konferancab GP Ansor Ajibarang.

Istilah Konferancab juga tak hanya dipakai oleh Gerakan Pemuda Ansor saja, melainkan juga dipakai oleh Muslimat, Fatayat, IPNU IPPNU, hingga Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU ) di level Kecamatan juga menggunakan istilah Konferancab untuk menamai forum rapat tertinggi tingkat Kecamatan tersebut.

Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Ajibarang rencana akan menggelar Konferancab untuk yang ke .... kalinya pada Ahad, 26 November 2017. Bertempat di Gelanggang Olahraga (Gelora) Desa Ajibarang Kulon.

Sebuah forum rapat tentunya membahas sesuatu hal, atau suatu persoalan yang tak bisa diputuskan secara individual, melainkan harus melalui rapat agar keputusan dapat diambil secara musyawarah dan menuai hasil yang mufakat.

Pendeknya, hasil kesepakatan bersama dan atau dari berbagi macam pertimbangan serta analisis dari semua pihak yang mengikuti forum rapat tersebut.

Lantas kira-kira apa yang akan menjadi soal dan dibahas bersama di forum rapat tertinggi Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Ajibarang itu? Isu apakah gerangan yang akan diangkat pada konerfancab?

Sudahlah tak usah terlalu di fikirkan, biarlah menjadi sekedar tulisan saja, tak usah terlalu kau risaukan.

Yang jelas, (Menurut saya) Konferancab bukan hanya sekedar mendengar laporan pertanggungn jawaban dari sang ketua, yang kemudian hanya satu kata, "Yah, diterima," berarti sudah beres semuanya.  Lalu, bisa jadi karena mengingat waktu, lngsung dilanjut dengan memilih ketua yang baru.

 Tetapi juga perlu diingat, Konferancab juga soal keorganisasian dan program kerja untuk kedepannya.


Selamat ber Konferancab sahabat-sahabat...
Jangan lupa seruput kopinya...
Biar rikeks membacanya....

Bravo GP Ansor Ajibarang
Salam Satu Komando

Labels: , ,

29 October 2017

GMNU Ajibarang Melek Literasi

IPNU IPPNU Ajibarang sebagai bagian penting dari Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang harus melek liteasi.



"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah, "

Quotes dari Imam Ghozali itu dikutip oleh Gus Eron, Pengasuh Rubrik Daras luarKotak.id sebagai pembuka acara pelatihan jurnalistik yang digelar untuk memperingati hari santri nasional, Sabtu siang (21/10) di Pendopo Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang.

Acara pelatihan jurnalistik yang helat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang    tersebut menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan akbar Jambore hari santri 2017 Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang dimulai sejak Jum'at (20/10) hingga Ahad (22/10).

Dengan mnggadeng media literasi lokal bernama luarKotak. Acara pelatihan yang diikuti oleh ratusan santri se kecamatan Ajibarang tersebut berlangsung dengan santai, penuh guyonan dan keakraban.

Tradisi baca tulis atau literasi dikalangan santri, khususnya di kalangan pelajar NU Kecamatan Ajibarang yang dirasa semakin hari semakin berkurang atau bahkan nyaris hilang kini mencoba dibangkitkan kembali secara berlahan.

"Hal itu yang menjadi dasar bagi kami untuk mengadakan acara ini," ucap Dony, Ketua IPNU Ajibarang "Kami ingin, membangkitkan kembali semangat literasi dikalangan kami," tambahnya.

Kemesraan antara dunia santri dan literasi sebenarnya bukanlah hal baru, sejak dulu keduanya sudah saling akrab dan menjalin hubungan erat. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kitab-kitab karya ulama nusantara yang hinga saat ini masih sering dikaji oleh para santri.

Banyak kitab-kitab karya ulama nusantara tersebut membuktikan bahwa kemampuan literasi mereka bukan hanya isapan jempol belaka, melainkan sudah menjadi tradisi dan budaya yang harus kita jaga.

Santri zaman now juga harus melek literasi, melek dalam arti bisa dan mampu menciptakan sebuah karya tulis, entah itu cerpen, artikel, opini, berita bahkan sampai karya tulis ilmiah.  Pendek kata : santri zaman now harus bisa menulis. Apalagi ditengah-tengah semrawutnya arus informasi media sosial yang kian banyak memunculkan hoax, santri zaman now harus cerdas mengolahnya.

Salah satu cara mengolahnya adalah dengan menggiatkan kembali semangat membaca dan menulis. Semangat literasi yang tinggi inilah yang menjadi modal awal santri zaman now untuk tetap eksis, menyuarakan pesan-pesan kyai yang menyejukkan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Di akhir sesi pelatihan, Susanto pengasuh rubrik riwayat luarKotak kembali menegaskan kepada para santri untuk gemar menulis. "Menulislah, maka kau abadi," tegasnya mengakhiri sesi pelatihan siang itu.

Labels: , ,

15 October 2017

Menyambut Gagap Gempitanya Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang



Di kotaku, persiapan untuk merayakan harinya orang-orang yang identik dengan peci,sarung,kitab kuning, dan pesantren itu sudah dilakukan jauh-jauh hari. Bukan hanya sebulan atau dua bulan, melainkan sejak hampir setahun silam, perencanaan kegiatan akbar itu mulai digerengseng kan.

Dengan memanfaatkan aplikasi pesan chat berbasis group, disebuah platform media sosial bernama WhatsApp yang sekarang berkembang pesat bak jamur dimusim penghujan, kegiatan akbar memperingati hari santri Nasional itu komunikasikan.

Hari demi hari, bulan demi bulan dilewati. Dua purnama seperti didalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) mungkin terlalu lama. Melainkan hanya berselang satu bulan sebelum hari H pelaksanaan, terbentuk kepanitiaan yang akan menjadi lakon sekaligus sutradara dalam hajat akbar memperingati resolusi jihad para santri dan kiai.

Tak main-main rupanya, seperti namanya Generasi Muda Nahdlatul Ulama, generasi dimana idealisme menjadi tolak ukur pemikiran mereka, dalam spektrum yang kecil, mereka pernah menggentarkan panggung karnaval Ajibarang yang dihelat oleh pemerintah Kecamatan untuk memperingati hari kemerdekaan.

Disaat yang lain dengan sangat PD nya menampilkan kehebatan yang mereka miliki, baik itu prestasi, penghargaan dan berbagi macam atraksi, mereka justru tampil dengan masa hijaunya menyuarakan Tolak Full Day School. Sampai-sampai seorang juri berkata "kon pada melu karnaval malah demo" ("untuk ikut Karnaval, malah demo")

Kembali lagi keatas, 20 - 22 Oktober 2017 nanti, mereka akan kembali menggetarkan jagad Ajibarang dengan kegiatan Jambore Santri yang akan dihelat di lapangan Desa Pandansari. Ribuan peserta se Kecamatan Ajibarang akan mengikuti kegiatan tersebut. Dari mulai siswa madrasah, hingga Rais Syuriah akan mengikutinya.

Tak ketinggalan, sayap pelajar NU dengan IPNU dan IPPNUnya, sayap pemudanya dengan GP Ansor, juga pasukan doreng baret hitam Banser. Para pemudi-pemudi cantik Fatayat NU, serta pasukan pemudi gagah berseragan mirip polwan namun tetap feminim dengan Fatser NUnya, serta ibu kita yang tetap harum namanya Muslimat.

Mereka semua akan mengikuti jambore, atau kemah atau pramuka serta apel akabr memperingati hari santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang pada 22 Oktober 2017 mendatang.

Berbagi even dan rangkaian kegiatan juga telah direncanakan, dari mulai pertunjukan seni hingga festival 1000 hadroh serta orasi kesantrian dan kebudayaan akan digelar untuk meramaikan kegiatan yang rencananya akan menjadi agenda rutin setiap tahunnan.

Namun semoga bukan hanya sekedar gagap gempita nya sebuah acara peringatan hari santri, melainkan juga bisa menladani, mengurai makna dan mencari arti dari nilai nilai luhur kesantrian dan kepesantrenan yang dapat kita ambil dari dari sejarah hari santri Nasional untuk generasi muda NU dimasa datang.


Tulisan ini saya persembahkan khusus bagi mereka Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang, segenap panitia, peserta, juga faunding father GMNU Ajibarang Bapak Slamet Ibnu Ansori yang selalu menjadi teman diskusi dan tak pernah bosan menemani saya ngopi, sembari sesekali tertawa untuk ngulet dan bersiap untuk langkah selanjutnya.

Sekian,
Jingkang, 16 Oktober 2017

Labels: , , , ,