08 August 2018

Catatan Perjuangan NU dari Lereng Gunung Slamet



Tak ada yang berbeda dari Dusun Semaya, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas lepas isya Rabu malam (1/8). Saat sepi mulai menyelimuti desa yang berada di lereng gunung Slamet ini, ratusan orang yang terdiri dari pemuda, pemudi dan anggota Nahdlatul Ulama justeru baru saja memulai acara pembentukan pengurus badan otonom NU mulai dari GP Ansor, IPNU dan IPPNUdi Masjid Nurul Huda.

Duduk di atas tikar berwarna hijau, kelompok wanita duduk berjajar di sebelah kiri. Sementara kelompok laki-laki berjajar di sisi yang lainnya. Sementara di bagian depan Ketua GP Ansor Karanglewas Syarifudin dalam balutan baju berwarna hijau dan peci hitam membuka acara dengan penuh semangat.

"Jangan takut berjuang di NU. Perjuangan di NU yang dibarengi dengan bekal semangat dan niat ikhlas akan menjadi bekal untuk meraih ridho Allah SWT. Allah akan memberi kekuatan pada perjuangan kita," kata Syarifudin memberi semangat dalam pembukaan acara di depan kader GP Ansor dan IPNU IPPNU malam itu.

Penekanan pada niat ikhlas dan ketulusan bukan tak beralasan, pasalnya kata Syarifuddin, pengabdian pada NU tidak bisa dilandasi dengan kalkulasi matematis, tapi harus diniati mengabdi untuk agama. Apalagi mengingat jarak Dusun Semaya sendiri yang cukup jauh dari keramaian. Untuk menuju kantor Desa Sunyalayu saja, warganya harus menempuh jarak puluhan kilometer. Sehingga secara geografis dusun yang beranggotakan sekitar 500 kepala keluarga ini tercatat sebagai dusun terjauh dan terpencil dari pusat desa.

"Semangat untuk menghidupi NU harus dimulai dari bawah. Rasa semangat merupakan modal awal yang harus dimiliki oleh setiap kader untuk mulai berjuang di NU. Kita harus membentenginya dengan penguatan NU secara jam'iyah maupun amaliyah AswajaAnnahdliyah," tegasnya. Dengan mendirikan badan otonom NU di Semaya maka secara otomatis NU telah turut serta dalam membentengi kawasan tersebut dari aliran yang membahayakan ideologi NKRI.

Pada acara yang juga dihadiri tokoh masyarakat setempat itu Eko Pustrika Waluyo terpilih sejumlah pimpinan organisasi sebagai berikut: Ansor Semaya sebagai ketua Ansor, Aji Pamungkas sebagai Kasatkorkel Banser, Sujarwo Sekertaris dan Miftah sebagai Bendahara, Fauzan Ranadani sebagai ketua IPNU dan Ismi Febriyanti sebagai ketua IPPNU masa hidmat 2018-2020. Acara yang dimulai lepas isya ini berlangsung hingga menjelang tengah malam dengan hidmat.




*Artikel ini pernah dimuat di NU Online dengan Judul Perjuangan NU dari Kaki Gunung Slamet

Labels: ,

03 August 2018

Catatan Kecil Kegiatan Indonesia Bijak Purwokerto

Sing Waras Aja Ngalah 

Raja Yudistira terkenal karena sifat bijaknya, sehingga ia dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Persiden ke 4 RI KH Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) juga terkenal sebagai sosok yang bijak, baik dalam berucap maupun dalam bertindak. Tak hanya itu, ia juga terkenal sosok yang humoris, nyelneh, dan kharismatik.



Tetapi kali ini saya tak ingin lebih jauh membahas tentang sosok Kiai kelahiran Jombang itu, karena jika dipaksakan tulisan saya bisa tidak rampung anda baca hinga esok pagi. Biarlah lain waktu saja, dan semoga kita selalu bisa meneladani sifat-sifat bijak beliau dikehidupan ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bijak berarti selalu menggunakan akal budidaya. Akal budi merupakan representasi dari pikiran sehat, berfikir secara sehat atau pendek kata : Waras.

Sing Waras Aja Ngalah (Yang waras jangan mengalah). Kata tersebut tentu sering kita dengar atau baca di media sosial, bailk distatus, hastag, atau tertera di dalam bentuk meme. Adalah sebuah respons dari banyaknya berita bohong yang ter dan disebarkan lewat media sosial oleh orang yang (tidak) waras. Sebuah alaram untuk kita supaya jangan hanya diam, ayo lawan hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Pokoknya, "Sing waras aja ngalah,".

Spirit itulah sepertinya yang mendasari teman-teman dari berbagai kabupaten untuk hadir dalam forum Indonesia Bijak Chapter Purwokerto yang digelar akhir bulan Juli 2018 kemarin di Hotel Rosalia Indah Baturaden.



Maraknya berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial memang menjadi hal yang sangat menghawatirkan dan membahayakan. Bukan hanya untuk diri kita saja, tetapi juga untuk negara dan bangsa Indonesia. Karena bisa memicu terjadinya konflik yang mengancam persatuan dan kesatuan negara.

Dan dari forum Indonesia Bijak yang motori oleh teman-teman muda Purwokerto itu mencoba memberikan semangat kembali kepada kita unutuk jangan pernah lelah dalan menyuarakan pesan-pesan kedamain, kebinekaan dan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena, #Kitainisama. #Singwarasajangalah.



(Kifayatul Ahyar)



Labels: