26 October 2017

Realitas dan Nasehat didalam Komedi Sibugil dan Sepanduk Lusuh : Komentar Cerpen Ahmad Tohari


Perempuan kampung kami menarik keluar spanduk lusuh yang berlambang organisasi politik itu dari bawah kedua selangkang Si Bugil lalu menjulurkannya ke pada Si Cakil.
“Ambil ini. Kami, bahkan Si Bugil tidak membutuhkannya.”
Sepenggal paragraf dan dialog dalam cerpen Ahmad Tohari yang terbit di Horison pada Juli 2016 berjudul " Komedi Si Bugil dan Sepanduk Lusuh" Adalah Sebuah cerpen yang berlatar belakang di sebuah daerah pedesaan yang bercerita tentang seorang perempuan gila bernama Si Bugil. Sesuai dengan nama nya dia di gambar kan oleh penulis sebagi perempuan gila yang tak berpakaian atau Bugil, dia sering berjalan-jalan di pinggir jalan sambil tersenyum dan tertawa lepas tak ada beban.
Sekali duakali, saya pribadi dan bahkan mungkin anda, pasti pernah menjumpai tokoh Si Bugil didalam kehidupan nyata, baik itu di jalanan desa maupun di jalanan kota, pasti kita pernah menjumpai nya. Dan sepertinya si penulis cerpen nya sendiri pun juga pernah menjumpai tokoh Si Bugil didalam kehidupan nyatanya sitokoh bugil.
Kemudian Santokliwon, pemuda kampung yang maniak dangdut. Pada faktanya pemuda-pemuda di kampung hampir semua rata-rata menyukai musik dangdut, dan pangelaran musik dangdut adalah hiburan yang murah meriah bahkan gratis bagi masyarakat di desa untuk mengobati duka lara. 
Lalu pemuda ber seragam loreng dan si perempuan kampung adalah sebuah gambaran tentang bagimana kepeduliah seorang perempuan sederhana yang tak tahu apa-apa, tak ikut organisasi ini itu dan sebaginya, tapi dia masih mempunyai hati dan kepedulian terhadap sesama, di bandingkan dengan si cakil yang taunya hanya mawuk-mawuk saja, padahal dia seorang anggota organisasi politik yang seharusnya lebib peka, tetapi malahan sebaliknya. Dia malah marah ketika spanduk organisasi nya dipaki oleh si Bugil untuk menutupi aurat tubuh nya. 
Dan yang terakhir, saya menilai bahwa cerpen yang berjudul Komedi Si Bugil dan Spanduk Lusuh tersebut adalah sebuah kritik tajam tapi halus tentang realitas sosial kehidupan yang ada. Dimana nilai-nilai kepedulian terhadap sesama manusia sudah semakin luntur saja, kepekaan terhadap hal-hal kecil semaik langka, tenggang rasa terhadap sesama manusia mulai menghilang, dan si empunya cerpen ini seperti ingin mengingatkan kita bahwa kita sebagi manusia harus selalu memiliki sifat Tepo Sliro, Melakukan Tepo Sliro dan Mengajarkan Tepo Sliro. 
Sekian.
21 Februari 2016

Labels: , ,