23 October 2017

Jendelaku, Harapanku

Sumber foto : Google
JENDELAKU, HARAPANKU

Napasnya tergesa-gesa, tatapannya pun terlihat banyak asa. Jam dinding membisu tanpa pamit terlebih dahulu. Setidaknya tersenyum dulu sebelum lenyap dalam pilu.

"Ah.. Detikmu masih saja berjalan"

Untuk apa aku bersembunyi lagi, detik jam ku saja masih setia dalam tugasnya, yang selalu membagi irama setiap detik. Karena ia, aku terhibur dibalik terik kejamnya Bintang Raksasa di siang hari.

"Ini balas dendam tadi malam ? Karena malam ambil keputusan untuk mendung"

Rupanya kerlap-kerlip itu bergabung jadi satu kala siang hari. Hingga tubuhku mandi dengan deritanya.

Kapan senja tiba ? Raksasa itu masih tegak disebelah barat. Bahkan sinarnya menusuk tembus jendela kesayanganku, jendela satu-satunya milikku, napas terbesar disetiap harapanku.

"Ooh ternyata senjanya ia akan datang"

Jam dindingku mulai tersenyum bangkit kembali setelah mengusir ilusi.

"Hei cepatkan detikmu ! Aku tidak sabar lagi melihat Raksasa itu lenyap"

Keringatku mulai menguap berbaur dengan angin sepoi yang tiba-tiba bertamu lewat jendelaku. Rupanya jam dindingku mengabulkan pintaku.

"Jendela.. Hariku hanya untuk melihatmu tak tertusuk tajamnya sinar Bintang Raksasa, aku hanya ingin kita bersama melihat, menikmati Bintang Kecil penuh rasa saja. Napas segarmu, sungguh menggairahkan. Memaksaku menghirup dan akhirnya ku ikhlas jika kau selalu memaksa"


23102017

Labels: ,