27 October 2021

Mengenang Geby yang Kini Hanya Tinggal Kenangan

Mengenang Geby yang Kini Hanya Tinggal Kenangan

 Mengenang Geby yang Kini Hanya Tinggal Kenangan

Kisah bermula di tahun 2008, ketika Google dan YouTube belum begitu digdaya menguasai kita, Nokia masih masih berjaya, teknologi jaringan internet baru sampai pada huruf E,  dan ia hanya bisa disentuh secara terbatas dalam bilik-bilik kecil warung internet (warnet). 

Sekarang, semua itu hanyalah tinggal kenangan, perubahan yang terjadi begitu cepat membuat kita melupakan banyak hal. Tapi tidak bagi Geby, ia dan lagunya yang juga terkenal di tahun 2008, hari ini akan tetap diingat oleh banyak orang, meski itu hanya sebatas Tinggal Kenangan. 

Bagi kalian yang mengalami masa remaja pada medio 2007-2008 pasti pernah mendengar Geby dan lagunya Tinggal Kenangan, lagu tersebut begitu terkenal kala itu, lirik yang mudah dicerna, pembawaan yang sendu, membuatnya mudah diterima oleh para anak muda.

Saya sendiri dulu sering mendengarkannya lewat saluran radio atau lewat pemutar musik Handphone Nokia milik teman yang memori penyimpanan nya hanya muat setengah giga. Bahkan, saya juga sempat menuliskan liriknya dalam sebuah buku catatan, namun sayang buku itu tak bisa diselamatkan dari rayap dan tukang kiloan.

Kontroversi dan Misteri

Popularitas Geby Tinggal Kenangan tak lepas dari berbagai macam kontroversi dan misteri. Pertama siapakah sosok perempuan bernama Geby itu?  Dari cerita yang berkembang, perempuan itu meninggal bunuh diri tak lama setelah ditinggal mati oleh pacarnya akibat kecelakaan dan lagu itu ia nyanyikan sesaat sebelum meninggal. 

Agnes Davonar, dalam buku Geby dan Lagunya menyebutkan bahwa Geby memiliki seorang pacar bernama Popo, keduanya membentuk sebuah band. Suatu waktu saat pentas, pacarnya tak bisa ikut karena sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit, singkat cerita lalu pacarnya meninggal, dan Geby lalu menyanyikan sendiri lagu itu dengan nada sedih.

Dari kesimpang siuran cerita yang beredar itu, Pakar telematika, Roy Suryo mencoba melakukan penyelidikan melalui kecanggihan teknologi, ia mencoba membongkar fakta sebenarnya dari lagu tersebut.

liputan6.com dalam artikelnya menulis saat Abe membawakan lagu Tinggal Kenangan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Dipanegara, Makassar, Sulawesi Selatan. 

Vokalis Sang Dipa itu ada di sebuah acara yang berlangsung 11 Juli 2005, Abe adalah rekan Pay, yang kini membentuk band Caramel. "Saya jamin Abe adalah penyanyinya," kata Roy Suryo

Taktik Industri Musik

Saling klaim sebagai pencipta dan penyanyi lagu Tinggal Kenangan juga semakin memperkeruh kondisi saat itu, bahkan Geby yang konon sudah meninggal itu kini menampakan dirinya, gadis berambut panjang asal Bekasi Jawa Barat itu bercerita jika pacar nya meninggal kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumahnya di tol Bekasi Pondok Gede. 

Lain lagi dengan Molly, perempuan asal Medan Sumatra Utara itu juga mengaku sebagai penyanyi dan pencipta sah lagu tersebut, bahkan ia siap jika suaranya akan disamakan dengan rekaman di lagu tersebut. 

Yovi Widianto, tidak mau ambil pusing tentang kontroversi yang mengiringi lagu tinggal kenangan, menurutnya itu adalah ulah para pemain industri musik saja. Berbeda dengan pengamat musik Danie Sakri yang malah bertanya mungkinkah satu lagu yang sama diciptakan oleh dua orang yang berbeda. 

Terlepas dari semua hal di atas, Geby telah membuktikan bahwa dirinya memang pantas untuk dikenang oleh semua orang, walaupun telah jauh pergi meninggalkan diriku, di sini aku tetap merindukan dirimu. 

Meski itu hanya sebatas Tinggal Kenangan.

Labels:

10 October 2021

Mendung Tanpo Udan dan Liriknya yang Tak Relevan

Dalam dunia seni ada sebuah kalam yang masyhur seperti ini. Jika suatu karya seni sudah diterbitkan maka saat itu penulis atau pengarangnya sudah mati. The Death Of Author (Pengarang Telah Mati), begitu kira-kira Roland Barthes mengatakannya pada tahun 1968.

Gagasan itu seolah sedang menempatkan pembaca sebagai subjek, bukan lagi objek. Ia bebas mengekspresikan segala sesuatu yang dibacanya, bebas menafsirkannya dan bebas memberi makna atas teks yang sedang dibaca. Teks, dalam hal itu bukan lagi menjadi benda mati, ia akan hidup dalam pikiran pembaca nya.

Sudah lah, saya tidak akan membahas hal itu. Terlalu berat bagi saya dan memang di blog ini bukan tempat untuk membahas hal-hal yang berat, kita cerita hal-hal biasa saja. Hal-hal yang sering luput dari perhatian kita, tapi justru sangat penting untuk di bahas (menurut saya).

Begini, beberapa hari terakhir ada sebuah lagu yang viral berjudul Mendung Tanpo Udan (Mendung Tanpa Hujan) lagu berbahasa jawa yang kental dengan nuansa dangdut koplo itu dinyanyikan oleh Ndraboy Genk. Tak butuh waktu lama, meski baru mendung dan belum sempat hujan apa lagi banjir, lagu itu langsung menempati tranding di YouTube.

Penulis dan pencipta asli mendung tanpo udan Kukuh Prasetya Kudamai dalam sebuah sesi wawancara menceritakan kisah tercipta nya lagu tersebut adalah semacam bentuk furstasi ketika sedang menghadapi pandemi pada tahun 2020 di jantung kota jakarta. Saat itu ia sedang ngangur karena project film nya sudah selesai, tapi ia tak bisa ke mana-mana karena virus corona menghadang nya. Dalam ke-frustasi-an itulah, lagu mendung tanpo udan tercipta.

Sebagai lagu yang diciptakan pada tahun 2020, lirik mendung tanpo udan terdengar sangat tidak relevan, khususnya pada bait kedua yang terkesan sangat dipaksakan demi sebuah keserasian. Meski pun tak bisa di pungkiri menjadi sangat enak didengar tapi secara makna sungguh tidak relevan.

Awak dewe tau duwe bayangan
Besok yen wes wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe belonjo dasteran

Kita pernah punya impian
Kelak jika telah berumah tangga
Aku membaca koran
Engkau belanja pakai daster


Nun jauh entah beberapa tahun ke depan sejak tahun lagu itu diciptakan, ada seorang bapak-bapak di pagi hari yang dingin sedang duduk di teras rumah, menikmati secangkir kopi sambil membaca sebuah koran. Pada sebuah kolom ramalan cuca, tercatat bahwa cuaca di sepanjang jalan kenangan hari ini akan diliputi awan mendung tanpa hujan.

Jika kita melihat realitas hari ini, banyak sekali media masa yang menghentikan versi cetak nya karena tak kuasa melawan media daring atau online yang kian merajalela. Orang-orang menyebutnya bahwa hari ini media cetak sedang mengalami masa senja nya, sebelum nanti benar-benar terbenam. 

Data terkait senjakala media cetak bisa anda baca sendiri disini.

Mari kita mendengarkan lagu mendung tanpo udan dengan khusyu sembari bertanya, masih adakah media cetak yang tetap terbit pada tahun-tahun mendatang?

Labels: