25 January 2019

Hujan Tak Jadi Sebab Patah Semangat

Dok : Acm Banyumas

Langit tampak mulai gelap ketika ratusan pemuda yang akan mengikuti kegiatan kegiatan Diklatsar Banser dan PKD Ansor mulai memadati Lapangan Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (18/1) kemarin.
Tak berselang lama, hujan mulai pun turun mengguyur. Namun, hujan sepertinya tak bisa menjadi sebab mereka patah semangat. 270 pemuda yang sedang berbaris mengikuti upacara pembukaan Diklatsar Banser dan PKD tetap khidmat mengikuti jalannya acara.
Ahmad Zainuddin Masdar, Ketua Ansor Banyumas yang saat itu didapuk untuk menjadi pembina upacara menjelaskan bahwa KH Wahab Chasbulloh saat dulu membentuk Ansor pada 24 April 1934 terinspirasi dari duka kaum yang ada di zaman Nabi, yaitu kaum Ansor dan Muhajirin.
"Ansor itu kaum yang menerima hijrah Nabi Muhammad saat Nabi melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Sesampainya di Madinah mereka menyambutnya dengan baik, bahkan mereka membantu perjuangan Nabi," katanya.
Ansor Banser adalah organisasi perjuangan. Ia tumbuh dan besar menjadi wadah perkumpulan para pemuda (orang-orang) yang ingin berjuang. "Berjuang mejaga NKRI, mengawal ulama dan kiai serta mengabdi pada Nusa dan Bangsa," tegasnya.
Pria yang akrab disapa Kang Zaid itu lalu berpesan kepada seluruh peserta Diklatsar dan PKD untuk tetap menjaga kesehatan dan patuh terhadap arahan instruktur hingga sampai akhir kegiatan.
“Semoga khidmat kita di Organisasi Ansor Banser dicatat oleh malaikat Allah sebagai amal baik, serta bisa membawa kemanfaatan dan  kemaslahatan bagi masyarakat. Juga kita semua tercatat sebagai santrinya KH. Hasyim Asy'ari (Mbah Hasyim)," jelas Kang Zaid.
Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari Jumat-Ahad (18-20/1) ini akan ditutup dengan pembacaan ikrar setia kepada NKRI dan pembaiatan menjadi anggota Ansor dan Banser.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Camat Pekuncen, Polsek Pekuncen, Danramil Pekuncen dan penjabat Desa Tumiyang serta beberapa pengurus NU, perwakilan badan otonom (Banom) dan tokoh masyarakat setempat.


Artikel ini pernah dimuat : nubanyumas.com dengan judul yang sama. Ahyar.id menerbitkannya kembali semata-mata hanya ingin mendokumentasikan kembali sebagai catatan sejarah untuk generasi yang akan datang. 

Labels: ,

25 September 2018

Mbah Badri, Tetap Pilih Banser di Usia Senja

Foto : Mufid Majnun - Mufid.web.id

Di antara 375 peserta yang sedang mengikuti Diklatsar Banser di Lapangan Desa Pamijen Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ada satu peserta yang langsung menarik perhatian.

Ia tampak begitu berbeda dari banyak peserta lainnya, tubuhnya sedikit pendek, berkulit sawo matang, rambut kepalanya terlihat sudah banyak yang memutih, dan rona garis-garis wajahnya terlihat jelas sudah mengeriput, lapuk dimakan waktu.

Ialah Ahmad Badri atau Mbah Badri, kata sahabat-sahabatnya memanggil. Di usianya yang tak lagi muda  ia mantap mengikuti diklatsar, sebagai syarat sah untuk menjadi anggota Banser. Ia menjadi peserta tertua diantara 375 peserta yang lain, usianya 68 tahun akunya kepada NU Online, Senin(24/9) siang.

Pilihannya untuk menjadi banser bukan tanpa alasan,dirinya hanya ingin mengabdi kepada NU, Kepada kiai dan ikut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Kulo cuma bade ngabdi ngge NU (Saya hanya mau mengabdi untuk NU, red)" kata Mbah Badri dengan semangat.

"Kulo pengin nderek romo kiai, nderek jaga negara (saya pengin ikut bapak kiai dan ikut menjaga negara, red)," lanjutnya

Mbah Badri lalu menceritakan, awalnya sempat sedikit minder karena usianya sudah tak lagi muda, takut tidak diterima atau tidak memenuhi syarat menjadi peserta diklatsar, namun panitia tetap menerimanya secara terbuka, dan ia mengaku sangat senang.

Ia mengatakan menjadi Banser adalah panggilan jiwanya, meski ia sadar usianya sekarang sudah tak muda lagi, namun semangat yang untuk mengabdi kepada NU dan kiai telah membuatnya seperti muda lagi.

Semoga sehat selalu mbah, dan senantiasa menginspirasi generasi muda NU untuk terus berkhidmah di NU dan NKRI.



Artikel ini juga dimuat di NU Online

Labels: ,