Hikayat Kembang Pete, Tanda Cinta Abadi Namun Kere
Labels: MUSIC
Traveling Storytelling Blogging
Labels: MUSIC
Tak ada sepatah kata pun yang keluar saat itu, hanya asap tembakau bondowoso yang mengepul, keluar dari mulutnya.
Sangat lama ia berdiri disitu, meninggalkan saya yang masih saja asyik dengan gawai nya, aku kemudian juga bangkit dan memotretnya.
Sambil melihatnya berdiri, aku membuka notepad dan mengetik kalimat-kalimat pendek ini, mencoba merangkainya menjadi sebuah kalimat yang indah, meskipun saya sadar hasilnya pasti gagal, tetapi (kata seorang motivator) bukankah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Setelah memastikan diri gagal untuk merangkai kalimat-kalimat yang indah, akhirnya saya berhenti untuk menulis lagi, notepad saya tutup. Tetapi lelaki itu masih saja berdiri, memandangi hamparan sawah dibelakang kiosnya.
Saat aku mengunggah fotonya di Instagram malam ini, apakah lelaki itu masih berdiri, ya masih tetap berdiri, tapi bukan ditempat yang itu, ia tetep berdiri di alam mimpi, bersama dengan mimpi-mimpinya yang lain.
Labels: Catatan
Bermusik di jalur Indie mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Cholil Mahmud (vokal utama, gitar), Poppie Airil (vokal latar, bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) karena sebelum memutuskan berjalan sendiri melawati jalur Indie mereka beberapa kali telah mencoba mengirimkan demo musik mereka ke beberapa label rekaman, tapi gagal.
Adalah Efek Rumah Kaca (ERK) grup band asal Jakarta yang berdiri sejak tahun 2001. Sebelum dikenal dengan nama itu, dulu mereka bernama Huns, kemudian juga pernah memakai nama Superego. Lalu sejak tahun 2007 mereka menggunakan nama Efek Rumah Kaca yang bertepatan dengan peluncuran album pertama mereka.
Pertama kali tampil dengan nama Efek Rumah Kaca yakni dalam acara peringatan kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munis Said Thalib di Gothe Institute Menteng, Jakarta Pusat. Kumparan.com menyebut bahwa karakter bermusik mereka terinspirasi dari Smashing Pumpkins, Jeff Buckley, jon Anderson, Radiohead dan Slank.
Mereka dikenal oleh para pecinta musik di Indonesia karena lagu-lagu
mereka yang banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat di
sekitar mereka pada semua tingkatan.
Misalnya, lagu berjudul ‘Efek Rumah Kaca’ yang mengkritik tingkah laku manusia yang menyakiti bumi dan merugikan manusia itu sendiri. Atau lagu ‘Hilang’ yang menyingkap cerita kelam atas hilangnya aktivis Indonesia.
Kata Tirto.ID Efek Rumah Kaca memang tak pernah memisahkan musik dari aktivisme, sesuatu yang akan terus relevan. Koor massal dan kepalan tangan ke langit dari anak-anak muda yang besar—bahkan lahir—di era pasca-Orde Baru adalah saksinya.
Tak hanya panggung Indonesia, Efek Rumah Kaca juga pernah merasakan atsmofer panggung negeri Paman Sam Amerika, tak hanya sekedar manggung, kesempatan itu juga mereka gunakan untuk belajar sekema musik independen Ameriaka.
Dari dekade 2001an hingga hari ini, mereka tercatat sudah sudah memproduksi empat album dan beberapa singel yakni Efek Rumah Kaca 2007, Kamar Gelap 2008, Sinestesia 2015, Jalan Enam Tiga 2019, serta pada tahun 2016 dan 2018 mereka hanya mengeluarkan singel.
Sedangkan penghargaan yang pernah mereka raih adalah, MTV Indonesia Award dengan kategori The Best Cutting Edge tahun 2008. Rolling Stone Indonesia dengan kategori Rookie of the Year tahun 2008. Album Kamar Gelap juga berhasil meraih kategori The Best Album dari Indonesia Cutting Edge Music Awards dan singel mereka berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, menag dalam kategori Favorite Alternative Song dalam penghargaan yang sama.
Terakhir pada tahun 2020 mereka meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia sebagai kolaborasi alternatif terbaik untuk karya Tiba-tiba Batu.
Menurut penulis, dari sekian banyak lagu Efek Rumah Kaca yang cocok untuk didengarkan pada setiap akhir tahun di Bulan Desember adalah lagu berjudul Desember yang dibuat tahun 2007 silam.
Lagu itu seolah merekam detail-detail kejadian yang hampir selalu terjadi di bulan Desember. Tentang langit yang menghitam dan hujan yang selalu membawa kenangan.
Misalnya pada “sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka sampai hujan memulihkan luka” cukup menggambarkan kerinduan kita bahwa hujan seharusnya membasuh luka bukan menimbulkan duka.
Dan Aku Selalu Suka Sehabis Hujan di Bulan Desember
Labels: MUSIC
Hujan memang penuh dengan misteri, setiap rintik-rintik nya yang jatuh ke bumi mengandung makna tersendiri. Meski ia sendiri tak pernah meminta untuk ditafsirkan, tapi kenyataannya setiap orang memiliki hak untuk menafsirkan hujan sesuai dengan keinginan mereka.
Jadi tak heran jika banyak sastrawan dan seniman atau pun penulis yang menjadikan hujan sebagai sumber inspirasi untuk karya-karya mereka. Salah satunya adalah Guns N' Roses, band asal Amerika Serikat yang terkenal dengan lagunya November Rain.
Lagu yang dirilis lebih dari tiga dekade yang lalu itu, hari ini masih terus didengarkan oleh para penggemarnya. Di kanal YouTube Guns N' Roses video clip November Rain sudah ditonton lebih dari 1 miliyar kali. Pencapaian ini sangat fantastis sekaligus menunjukkan bahwa eksistensi Guna N' Roses terus bergerak melampaui zamannya.
Permainan gitar yang sangat epik oleh Slash, vokal Axl Rose yang emosional, iringan orkestra dan penampilan piano yang dingin menjadikan November Rain disebut-sebut sebagai salah satu lagu terbaik dari Guns N' Roses, bahkan situs blabbermouth.net menobatkannya sebagai lagu terbaik sepanjang masa yang layak bersanding dengan lagu-lagu “Bohemian Rhapsody”, “Stairway to Heaven”, “Hotel California”, atau “Free Bird” sebagai tembang klasik yang ditulis dengan tinta emas di kitab suci Rock N Roll.
November Rain menjadi puncak dari visi yang ingin dicapai Guns N' Roses, khususnya bagai sang vokalis Axl Rose di album kedua mereka Use Your IlLuSion I. Dalam otobiografinya Slash mengatakan bahwa November Rain adalah buah dari kecemerlangan pemikiran Axl Rose. Sedangkan Matt Sorum, sang Dummer
mengatakan Axl ingin membawa band ini ke level stadium, dan ia tahu kami
bisa mencapai hal itu dengan lagu yang epik serta video klip megah yang
melampaui bayangan.
"Apa yang ia (Rose) capai pada akhirnya benar-benar menakjubkan. Aku tidak tahu apakah itu merepresentasikan Guns seperti yang kubayangkan, tapi (lagu) itu walau bagaimana pun terdengar luar biasa," kata Slash tahun 2008.
November Rain adalah lagu tentang asmara dan patah hati. Lagu ini adalah saga gelap tentang kehilangan dan lubang yang tak akan pernah bisa ditambal, tentang kerapuhan, juga tentang upaya menguatkan diri melalui mantra, “So never mind the darkness, we still can find a way. Cause nothing last forever, even cold November Rain.”
Serta menjadi bagian dari kultur pop modern, kata Kompas.com dimana orang-orang terbiasa mengasosiasikan November Rain ketika memasuki bulan kesebelas tahun masehi yakni November. 'Cause nothing lasts forever And we both know hearts can change And it's hard to hold a candle In the cold November rain...'
Ketika aku melihat matamu
Aku bisa melihat cinta tertahan
Tapi sayang saat aku memelukmu
Tidakkah kamu tahu aku merasakan hal yang sama?
Tidak ada yang bertahan selamanya
Dan kita berdua tahu hati bisa berubah
Dan sulit untuk memegang lilin
Dalam dinginnya hujan bulan Nopember
Kami sudah melalui ini untuk waktu yang lama
Hanya mencoba untuk membunuh rasa sakitnya, ooh ya
Cinta selalu datang, cinta selalu pergi
Tidak ada yang benar-benar yakin siapa yang akan pergi hari ini
Berjalan pergi
Jika kita bisa meluangkan waktu untuk meletakkannya di telepon
Aku bisa mengistirahatkan kepalaku hanya dengan mengetahui bahwa kau milikku
Semua milikku
Jadi jika kamu ingin mencintaiku maka sayang jangan menahan diri
Atau aku akan berakhir berjalan di tengah hujan November yang dingin
Apakah Anda perlu waktu sendiri?
Apakah Anda perlu waktu sendirian?
Ooh, semua orang butuh waktu sendiri
Ooh, tidakkah kamu tahu kamu butuh waktu sendirian?
Aku tahu sulit untuk menjaga hati tetap terbuka
Bahkan ketika teman-teman tampaknya ingin menyakitimu
Tapi jika kamu bisa menyembuhkan patah hati
Tidakkah ada waktu untuk memikat Anda?
Oh, oh, oh
Terkadang aku butuh waktu sendiri
Terkadang aku butuh waktu sendirian
Ooh, semua orang butuh waktu sendiri
Ooh, tidakkah kamu tahu kamu butuh waktu sendirian?
Dan saat ketakutanmu mereda
Dan bayangan masih ada, oh yeah
Aku tahu bahwa kamu bisa mencintaiku ketika tidak ada yang tersisa untuk disalahkan
Jadi jangan pedulikan kegelapan, kita masih bisa menemukan jalan
Karena tidak ada yang bertahan selamanya, bahkan hujan November yang dingin
Tidakkah kamu berpikir bahwa kamu membutuhkan seseorang?
Tidakkah kamu berpikir bahwa kamu membutuhkan seseorang?
Semua orang membutuhkan seseorang
Kamu bukanlah satu - satunya
Kamu bukanlah satu - satunya. (*)
Labels: MUSIC
![]() |
| Bangun Sugito/Gito Rollies |
Pada dekade 70-an, Indonesia pernah memiliki seorang penyanyi rock terkenal dengan suara khasnya serak-serak basah seperti The Godfather of Soul nya Amerika Serikat, James Brown. Ia lahir dengan nama Bangun Sugito Tukiman, 1 November 1947 di Kota Biak, Irian Jaya, tepat hari ini 74 tahun yang lalu.
Meski lahir di timur, tak lantas membuat ia hidup di daerah timur. Kebalikannya, Ia justru tumbuh dan besar di Kota Kembang, Bandung. Menikmati masa muda dengan penuh dengan hal-hal gila di Kota berjuluk Paris Van Java, sebelum akhirnya memutuskan hijrah ke Jakarta pada tahun 1975.
Bangun Sugito Tukiman atau Gito Rollies merupakan vokalis grup musik The Rollies, sebuah band asal Bandung yang eksis pada tahun 1960 hingga akhir 1990-an. Grup bentukan Deddy Stanzah itu meminta Gito bergabung tujuh tahun setelah The Rollies terbentuk di tahun 1960.
Tengku Zulian Iskandar, gitaris The Rollies melihat Gito saat itu sebagai seorang penyanyi pop yang sopan. Ia memiliki tubuh atletis dan berambut kribo seperti Ahmad Albar, God Bless. Menjadikan ia memiliki pesona tersendiri sebagai seorang vokalis dan sejak itu panggilan Gito Rollies melekat pada dirinya.
Bergabungnya Gito ke The Rollies membawa dampak yang cukup besar, khususnya dalam warna musik yang diusung The Rollies. Pada masa-masa awal The Rollies berdiri, tahun 1960-an, seiring terbawa era British Invasion, mereka membawakan lagu-lagu luar negeri seperti The Beatles, Bee Gees, The Rolling Stones.
![]() |
| The Rollies Sampul Majalah Aktuil |
Kemudian saat Gito bergabung pada tahun 1967, mereka juga membawakan lagu-lagu Tom Jones, Engelbert Humperdink, dan sejenisnya. Setelah itu, dirasa cocok dengan gaya suara serak-serak basahnya, Gito membawakan lagu-lagu James Brown, dan nyatanya cocok.
Di penghujung era 60-an, pemusik jazz Benny Likumahuwa, bergabung dengan The Rollies. Benny yang lihai memainkan bass, drum, flute, trombone dan saxophone lagi-lagi membuat warna musik The Rollies bergeser. Usul Benny yang ingin memasukkan instrumen musik tiup ke dalam musik The Rollies disepakati oleh semua personil. Perubahan itu membuat musik The Rollies yang soul and funk, semakin dekat dengan irama Blood, Sweet and Tearse yang kemudian jadi inspirasi mereka.
Gito juga mulai belajar meniup terompet, sembari menjadi vokalis. Tapi setelah dirasa agak susah untuk mengatur pernapasan dan suaranya, ia lalu memutuskan untuk fokus saja menjadi vokalis.
Berkat instrumen nya yang kian berwarna, sejak tahun 1968 The Rollies bolak-balik dapat langganan manggung di Singapura dan Thailand, sempat juga menjadi pengiring musik penyanyi Aida Mustafa, Anna Mathovani dan Fenty Effendi.
Memasuki dekade 70an, The Rollies kembali ke tanah air. Saetibanya mereka mau tidak mau diminta untuk tunduk pada warna musik Koes Plus, Panbers, The Mercy's, Favorite's Group, hingga D'Lloyd yang sedang merajai industri musik kala itu.
Tahun 1975, Bandung yang saat itu menjadi barometer musik perlahan mulai redup. Si Kota Kembang itu mulai layu dalam hal industri musik, hal itulah yang kemudian menjadikan Gito memutuskan untuk hijrah ke Jakarta.
Ramy Salado, seniman dan penulis sahabat Gito mencatat, bahwa saat itu di Bandung konser musik tak lagi bisa menghasilkan uang. Kalaupun ada konser, honor nya hanya sebatas ucapan terimakasih dari panitia penyelenggara.
Sebagai sahabat dekat Gito, Remy sedikit banyak tau tentang bagaimana kehidupan Gito dimasa mudanya yang penuh dengan hal-hal gila. Salah satunya adalah ketika Gito pernah ditantang untuk naik motor dengan telanjang pada malam hari dari Jalan Braga ke Lembang. Meski tahu bahwa hal itu akan sulit dilakukan, karena Bandung malam hari tahun 1970-an identik dengan udara dingin yang membuat banyak orang menggigil, Gito tetap menyanggupinya.
Sosok Gito bagi Remy tak hanya sekedar teman, ia terang-terangan menyebut bahwa Gito merupakan sumber inspirasinya, khususnya ketika ia menulis naskah drama Orexas. (Organisasi Sex Bebas). Naskah itu kata Remy terinspirasi dari gaya keyentrikan Gito.
![]() |
| Album Religi Gito Rollies |
Titik balik kehidupan Gito berubah drastis ketika memasuki usia 50 tahun. Ia yang awalnya sangat akrab dengan narkoba, pelan-pelan mulai meninggalkannya. Gito lalu mulai mendalami agama, ikuti rutin dalam pengajian hingga sampai mengisi pengajian.
Pendek kata Gito Rollies sudah Hijrah, tapi ia tak lantas mengharamkan musik yang pernah membesarkan namanya itu. Ia berdamai dengan dirinya sendiri. Berdamai melalui agama.
Ia masih tetap bernyanyi dan bermain film. Salah satu perannya yang paling ikonik adalah ketika menjadi pedagang buku di Kwitang, beradu akting dengan Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta.
Labels: MUSIC
Kisah bermula di tahun 2008, ketika Google dan YouTube belum begitu digdaya menguasai kita, Nokia masih masih berjaya, teknologi jaringan internet baru sampai pada huruf E, dan ia hanya bisa disentuh secara terbatas dalam bilik-bilik kecil warung internet (warnet).
Sekarang, semua itu hanyalah tinggal kenangan, perubahan yang terjadi begitu cepat membuat kita melupakan banyak hal. Tapi tidak bagi Geby, ia dan lagunya yang juga terkenal di tahun 2008, hari ini akan tetap diingat oleh banyak orang, meski itu hanya sebatas Tinggal Kenangan.
Bagi kalian yang mengalami masa remaja pada medio 2007-2008 pasti pernah mendengar Geby dan lagunya Tinggal Kenangan, lagu tersebut begitu terkenal kala itu, lirik yang mudah dicerna, pembawaan yang sendu, membuatnya mudah diterima oleh para anak muda.
Saya sendiri dulu sering mendengarkannya lewat saluran radio atau lewat pemutar musik Handphone Nokia milik teman yang memori penyimpanan nya hanya muat setengah giga. Bahkan, saya juga sempat menuliskan liriknya dalam sebuah buku catatan, namun sayang buku itu tak bisa diselamatkan dari rayap dan tukang kiloan.
Popularitas Geby Tinggal Kenangan tak lepas dari berbagai macam kontroversi dan misteri. Pertama siapakah sosok perempuan bernama Geby itu? Dari cerita yang berkembang, perempuan itu meninggal bunuh diri tak lama setelah ditinggal mati oleh pacarnya akibat kecelakaan dan lagu itu ia nyanyikan sesaat sebelum meninggal.
Agnes Davonar, dalam buku Geby dan Lagunya menyebutkan bahwa Geby memiliki seorang pacar bernama Popo, keduanya membentuk sebuah band. Suatu waktu saat pentas, pacarnya tak bisa ikut karena sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit, singkat cerita lalu pacarnya meninggal, dan Geby lalu menyanyikan sendiri lagu itu dengan nada sedih.
Dari kesimpang siuran cerita yang beredar itu, Pakar telematika, Roy Suryo mencoba melakukan penyelidikan melalui kecanggihan teknologi, ia mencoba membongkar fakta sebenarnya dari lagu tersebut.
liputan6.com dalam artikelnya menulis saat Abe membawakan lagu Tinggal Kenangan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Dipanegara, Makassar, Sulawesi Selatan.
Vokalis Sang Dipa itu ada di sebuah acara yang berlangsung 11 Juli 2005, Abe adalah rekan Pay, yang kini membentuk band Caramel. "Saya jamin Abe adalah penyanyinya," kata Roy Suryo.
Labels: MUSIC
Dalam dunia seni ada sebuah kalam yang masyhur seperti ini. Jika suatu karya seni sudah diterbitkan maka saat itu penulis atau pengarangnya sudah mati. The Death Of Author (Pengarang Telah Mati), begitu kira-kira Roland Barthes mengatakannya pada tahun 1968.
Gagasan itu seolah sedang menempatkan pembaca sebagai subjek, bukan lagi objek. Ia bebas mengekspresikan segala sesuatu yang dibacanya, bebas menafsirkannya dan bebas memberi makna atas teks yang sedang dibaca. Teks, dalam hal itu bukan lagi menjadi benda mati, ia akan hidup dalam pikiran pembaca nya.
Sudah lah, saya tidak akan membahas hal itu. Terlalu berat bagi saya dan memang di blog ini bukan tempat untuk membahas hal-hal yang berat, kita cerita hal-hal biasa saja. Hal-hal yang sering luput dari perhatian kita, tapi justru sangat penting untuk di bahas (menurut saya).
Begini, beberapa hari terakhir ada sebuah lagu yang viral berjudul Mendung Tanpo Udan (Mendung Tanpa Hujan) lagu berbahasa jawa yang kental dengan nuansa dangdut koplo itu dinyanyikan oleh Ndraboy Genk. Tak butuh waktu lama, meski baru mendung dan belum sempat hujan apa lagi banjir, lagu itu langsung menempati tranding di YouTube.
Penulis dan pencipta asli mendung tanpo udan Kukuh Prasetya Kudamai dalam sebuah sesi wawancara menceritakan kisah tercipta nya lagu tersebut adalah semacam bentuk furstasi ketika sedang menghadapi pandemi pada tahun 2020 di jantung kota jakarta. Saat itu ia sedang ngangur karena project film nya sudah selesai, tapi ia tak bisa ke mana-mana karena virus corona menghadang nya. Dalam ke-frustasi-an itulah, lagu mendung tanpo udan tercipta.
Sebagai lagu yang diciptakan pada tahun 2020, lirik mendung tanpo udan terdengar sangat tidak relevan, khususnya pada bait kedua yang terkesan sangat dipaksakan demi sebuah keserasian. Meski pun tak bisa di pungkiri menjadi sangat enak didengar tapi secara makna sungguh tidak relevan.
Awak dewe tau duwe bayangan
Besok yen wes wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe belonjo dasteran
Kita pernah punya impian
Kelak jika telah berumah tangga
Aku membaca koran
Engkau belanja pakai daster
Nun jauh entah beberapa tahun ke depan sejak tahun lagu itu diciptakan, ada seorang bapak-bapak di pagi hari yang dingin sedang duduk di teras rumah, menikmati secangkir kopi sambil membaca sebuah koran. Pada sebuah kolom ramalan cuca, tercatat bahwa cuaca di sepanjang jalan kenangan hari ini akan diliputi awan mendung tanpa hujan.
Jika kita melihat realitas hari ini, banyak sekali media masa yang menghentikan versi cetak nya karena tak kuasa melawan media daring atau online yang kian merajalela. Orang-orang menyebutnya bahwa hari ini media cetak sedang mengalami masa senja nya, sebelum nanti benar-benar terbenam.
Data terkait senjakala media cetak bisa anda baca sendiri disini.
Mari kita mendengarkan lagu mendung tanpo udan dengan khusyu sembari bertanya, masih adakah media cetak yang tetap terbit pada tahun-tahun mendatang?
Labels: MUSIC
Labels: MUSIC
BARU-BARU ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto berubah status menjadi Universitas Islam Negeri Prof. KH Saifuddin Zuhri ( UIN SAIZU). Perubahan ini dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 41 tahun 2021 (11/05/2021).
“Dalam Perpres tersebut presiden menimbang bahwa untuk memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan proses integrasi ilmu Agama Islam dengan ilmu lain serta mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang UIN SAIZU Purwokerto dari yang sebelumnya berbentuk Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto,” tulis Tim Media 2021 dalam rilisnya yang dimuat di website resmi IAIN Purwokerto.
Lantas, siapakah KH Saifuddin Zuhri? Bagaimana sosok dan kiprahnya hingga namanya sampai diabadikan menjadi nama sebuah lembaga penggunaan tinggi negeri islam di Kabupaten Banyumas.
KH Saifuddin Zuhri adalah seorang ulama pejuang kemerdekan dan intelektual NU, lahir di Desa Kauman, Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas 1 Oktober 1919. Dia lahir dalam keluarga sederhana, Ayahnya adalah seorang petani bernama H Mohammad Zuhri, ibunya bernama Siti Saudatun adalah seorang pengrajin batik.
Masa kecil Saifuddin dihabiskan untuk belajar dan mengaji. Pagi hari Saifuddin kecil belajar di Sekolah Ongko Loro, sore harinya mengaji di Sekolah Arab atau Madrasah Diniyah. Dari kedua tempatnya belajar itu, Saifuddin bisa mempelajari pola pikir keilmuan barat, dan sore harinya dia belajar tentang ilmu agama Islam. Ibunya pernah berpesan kepada Saifuddin muda untuk menyerap habis seluruh ilmu para kiai di Desa ini.
Setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Manbaul Ulum dan Salafiyah di Desanya, dan umurnya mulai menginjak usia 18 tahun Saifuddin Zuhri berangkat ke Solo untuk melanjutkan belajarnya di Lembaga Pendidikan (LP) Al-Islam, Solo.
“Untuk tidak dianggap sebagai ‘orang pinter kelas kampung,’ pada 1937 saat umurnya menginjak 18 tahun, yaitu beberapa waktu sesudah tamat dari Al Huda, Saifuddin merantau ke Solo untuk melanjutkan pelajaran,” tulis Muhamin Abdul Ghofur dalam buku Menteri-Menteri Agama RI: Biografi Sosial Politik berjudul KH Saifuddin Zuhri: Eksistensi Agama dan Nation Building.
Di Kota Solo, Saifuddin muda terus mengasah bakat dan keilmuanya. Dia juga mulai berkiprah dalam dunia pergerakan pemuda serta organisai, hingga dipercaya untuk menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan dan Konsul Nahdlatul ‘Ulama Daerah Kedu.
“Kedua jabatan organisasi tersebut dia emban saat usianya masih kurang lebih 19 tahun”
Selain itu, Saifuddin muda juga sudah mulai akif mengajar sebagai Guru Madrasah. Kepiawaian menulisnya terus berkembang hingga mengantarkanya menjadi wartawan di kantor berita yang sekarang kita kenal dengan nama Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, beberapa majalah dan suarat kabar.
Saat terjadi gejolak Palagan Ambarawa, KH Saifuddin Zuhri yang diberi amanat untuk menjadi komandan Hizbullah Jawa Tengah dan Anggota Dewan Pertahanan Daerah Kedu ikut berperang melawan penjajah dibawah komando Jendral Sudirman, bersama TKR dan rakyat.
Kemudian di usianya yang ke 43 tahun, Persiden Sukarno mengangkatnya menjadi mentri agama yang ke 10, tepat hari jum’at 17 Februari 1962 mengantikan KH Wahib Wahab yang mengundurkan diri. Kisah pengangkatannya tersebut menjadi tanda tanya besar kala itu, karena waktu itu Bung Karno tiba-tiba memanggilnya menghadap ke istana negara.
“Penunjukan Saudara sudah saya pikir masak-masak. Telah cukup lama saya pertimbangkan. Sudah lama saya ikuti sepak terjang Saudara sebagai wartawan, politisi, dan pejuang. Saya dekatkan Saudara menjadi anggota DPA. Saya bertambah simpati. Baru-baru ini Saudara saya ajak keliling dunia, dari Jakarta ke Beograd, Washington, lalu Tokyo. Saya semakin mantap memilih Saudara sebagai Menteri Agama,” ujar Bung Karno ketika itu.
Penunjukan tersebut tidak langsung diiyakan oleh KH Saifuddin Zuhri. Dia memilih bersikap tawadu dan rendah diri, ia lantas meminta waktu kepada bung karno untuk memikirnya terlebih dahulu.
KH Saifuddin Zuhri lalu sowan ke beberapa tokoh NU seperti KH Wahab Chasbullah dan KH Idham Cholid. Ia juga menemui KH Wahib Wahab untuk meminta petunjuk perihal pengangakatanya sebagai mentri agama. Setelah bertemu dengan mereka semua, barulah KH saifudin Zuhri menerima pinangan bung karno untuk menjabat sebagai mentri agama.
Pada periode kepemimpinannya sebagai Menteri Agama inilah, dunia pendidikan tinggi Islam berkembang pesat. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berkembang di sembilan provinsi, hingga kabupaten dan kota.
Hari ini, untuk mengenang jasa-jasa mentri agama yang lahir di bumi Banyumas itu, namanya diabadikan menjadi nama sebuah lembaga pendidikan tinggi islam negri yang terletak di Kabupaten Banyumas dengan nama Universitas Islam Negeri KH Saifudin Zuhri – UIN SAIZU.
Artikel ini juga dimuat di NU Online Banyumas
Labels: Artikel
Apakah Ngeblog Masih Relevan di Tahun 2021
Apakah anda pernah mendengar atau membaca berita ada orang yang berhasil meraup jutaan rupiah setiap bulan hanya dengan ngeblog?
Jika anda menjawab "Ya,"
Pasti anda akan bertanya, bagaimana caranya agar bisa meraih jutaan rupiah hanya dengan ngeblog?
oke, sebelum kita menjawab pertanyaan di atas. Alangkah baiknya anda pahami dahulu ulasan saya tentang dunia blogging dan tangannya di era sekarang.
Mengapa
hal ini penting, karena kebanyakan para blogger pemula pasti tidak
begitu memahaminya. Mereka masih dibutakan oleh jutaan rupiah yang bakal
mereka dapat dari blog.
Padahal, tidak ada yang mudah dalam
dunia ini. Semuanya membutuhkan proses, kerja keras, dan usaha yang
sebanding dengan apa yang kalian inginkan.
Bagi kalian blogger
pemula yang bercita-cita ingin menjadi seorang blogger dan berambisi
untuk mendapatkan uang jutaan rupiah dari ngeblog. Jawab dahulu pertanyaan di bawah ini.
Apakah ngeblog masih relevan di zaman sekarang?
Sebagai seorang blogger pemula yang ngeblog sekadar menyalurkan hobi, maka saya jawab ya. Ngeblog tidak akan pernah ketinggian zaman, ngeblog akan tetap relevan sampai kapan pun.
mengapa
seperti itu, karena menurut saya, ngeblog itu bukan hanya soal uang,
bukan hanya soal hobi, tapai tentang bagaimana anda mendokumentasikan
kehidupan dalam dalam lewat kata-kata.
Manfaat ngeblog yang harus kamu tahu.
Dunia
blogging tak bisa lepas dari dunia tulis menulis. Mungkin sudah sering
anda dengar, menulis itu sangat bermanfaat untuk kesehatan mental,
menghilangkan stres dan trauma.
tetapi, bukan hanya sebatas itu, menulis memiliki manfaat yang lebih banyak lagi.
Menulis bisa meredam stres.
Menulis
dapat membantu Anda meluapkan emosi yang sedang Anda rasakan dan
pendam, terutama emosi negatif, seperti kemarahan, kesedihan, atau
kekecewaan.
Menjadi Pribadi yang Kreatif Inovatif.
Tidak
semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan otak kiri, otak kanan
juga bisa kita gunakan. Meskipun otak kiri penting untuk menganalisis, tetapi otak kanan juga penting untuk menjadi solutif.
Dengan
menulis anda bisa mengasah sisi kreatif otak kanan, untuk melengkapi
sisi analis otak kiri. Sehingga bisa menjadikan anda pribadi yang
inovatif.
Mengatakan apa yang tak bisa terucap.
Tidak semua orang pandai berkata-kata langsung, tetapi
setiap orang pasti bisa menulis. Menulis bisa jadi metode untuk melatih
mengucapkan kata-kata yang sulit terucap, yang sesuai dengan hati dan
perasaan, serta ekspresi yang anda rasakan.
Cara ini sangat efektif untuk mengosongkan dan membuang perasaan negatif.
Selain
itu, menulis juga bisa untuk melatih kejujuran anda, meningkatkan daya
ingat dan masih banyak lagi manfaat yang diperoleh dari menulis.
Lantas apakah ngeblog masih relevan saat ini?
Jawabanya
tergantung dari tujuan kalian ngeblog. Jika tujuan kalian ngeblog untuk
menyalurkan hobi atau untuk berlatih menulis, maka tentu saja hal ini
masih relevan.
Tetapi, jika tujuan kalian ngeblog untuk mencari penghasilan, lebih baik pikir-pikir dahulu lagi deh. Karena untuk mendapat penghasilan dari blog tidak semudah anda menulis artikel seperti yang anda baca ini.
Terakhir, tetaplah ngeblog meskipun tidak menghasilkan.
Tetaplah menulis untuk keabadian.
Salam…
Labels: BLOGGER
Labels: Feature
Labels: Artikel
Labels: Artikel