Hujan Dan Seorang Perempuan Yang Menunggu
"Sudahlah, ayo kita pergi. Percuma saja kita di sini."
"Tunggulah sebentar, aku yakin dia sebentar lagi akan datang."
Jam di tangan sudah menunjuk angka 17:45. Itu berarti sudah hampir dua jam lamanya aku menemanimu menunggu. Entah apa yang sedang kau tunggu, aku sendiri tak tau. Pernah berapa kali kucoba menanyakan hal itu kepadamu, tapi selalu kau jawab dengan diam, diam dan diam. Sembari menatapku dalam-dalam.
Di luar, hujan sudah mulai turun membasahi permukaan. Gumpalan awan hitam yang sedari kita datang sudah banyak berkumpul di awang-awang, sepertinya sudah tak bisa lagi ditahan oleh langit yang membentang. Dan hujan pun lalu turun dengan riang.
"Apakah kau hanya menunggu hujan?" tanyaku pelan.
"Tidak, aku menunggu seseorang." Jawabmu lirih seolah ada rasa letih yang teramat pedih.
Mungkin ini kali partamanya kau membuka mulutmu untuk menjawab pertanyan dariku. Walupun dengan suara lirih dan sekejap kilat engkau menjawabnya, tapi seenggaknya kau sudah menjawabnya, dan rasa penasaranku tentang sesuatu yang kau tunggu itu sudah sedikit terobati dengan jawaban yang kau berikan.
Aku khawatir, jika kau hanya menunggu hujan. Karena bagiku itu hanya membuang-buang waktu saja. Bagiku, hujan tak ubahnya hanyalah air yang jatuh dari atas langit, akibat dari proses penguapan air laut yang tersinari matahari. Kemudian uap itu naik, naik, dan naik terbawa angin lalu menggumpul di awang-awang membentuk sebuah awan berwarna hitam, yang kemudian turun ke bumi sebagai hujan.
Tapi syukurlah kau bukan sedang menunggu hujan. Lantas siapa sebenarnya seseorang yang kau tunggu itu. Yang telah tega membuatmu menunggu, menunggu selama ini. Menunggu sampai pada titik tunggu yang paling beku. Dan membeku seperti hujan yang kedinginan. Yang telah jatuh tepat di antara dedaunan yang rimbun.
Aku semakin penasaran dengan seseorang yang kau tunggu itu. Seperti apakah wujudnya? Apa jagan-jangan yang kau tunggu itu laki-laki yang kau ceritakan padaku tempo hari yang silam. Tapi ah.. Mana mungkin. Setauku dia telah berlalu dari hidupmu.
Rasa penasaranku pun kian lama kian membesar. Seperti hujan yang semakin lama semakin turun dengan deras. Dalam hatiku ingin kutanyakan sekali lagi kepadamu, tapi aku yakin kau hanya akan menjawabnya dengan diam dengan mata yang bersinar.
Lalu dengan rasa yang sudah tidak menentu. Antara takut dan ragu-ragu akan jawaban yang entah nanti akan keluar atau tidak dari bibirmu. Aku memberanikan diri menanyakannya kepadamu.
"Siapa yang kau tunggu?" tanyaku pelan dengan penuh kehati-hatian.
Kau mengangkat kepalamu, sorot matamu langsung tepat menusuk mataku. Tajam, sangat tajam. Bibirmu masih melekat lengket di antara keduanya. Diam, diam dan kau masih saja terdiam. Seolah tak mendengar apa yang aku katakan.
Dari kelopak matamu mulai ada gerimis, yang menetes jatuh dari dalam pandanganmu. Semakin lama semakin deras. Dan ahirnya kau pun Menangis.
Sembari menangis, aku mendegar ada suara yang keluar dari bibirmu. Suaranya begitu pelan dan lirih. Sampai aku sendiri harus cermat mendengarnya. Kurang lebih begini suaranya. Tolong dengarkan dengan seksama.
"Aku menunggu seorang yang menulis cerita ini. Yang kata-katanya telah membuatku rindu. Puisinya bagaikan candu dan romanya sangat syahdu. Tetapi dia telah tega membuatku menunggu, menunggu sampai jiwaku membeku. Dan sekarang aku baru sadar. Jika dia adalah nyata sedangkan kita cuma sekedar fiksinya. Yang tak mungkin jadi nyata di dalam tulisan-tulisannya."
Sekian.
Pernah dimuat di
http://www.qureta.com/post/hujan-dan-seorang-perempuan-yang-menunggu?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork
Ju'mat Pon, 28 Oktober 2016
Labels: Cerpen



<< Home