GMNU Ajibarang Melek Literasi
Table of Contents
IPNU IPPNU Ajibarang sebagai bagian penting dari Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kecamatan Ajibarang harus melek liteasi.
"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah, "
Quotes dari Imam Ghozali itu dikutip oleh Gus Eron, Pengasuh Rubrik Daras luarKotak.id sebagai pembuka acara pelatihan jurnalistik yang digelar untuk memperingati hari santri nasional, Sabtu siang (21/10) di Pendopo Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang.
Acara pelatihan jurnalistik yang helat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang tersebut menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan akbar Jambore hari santri 2017 Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang dimulai sejak Jum'at (20/10) hingga Ahad (22/10).
Dengan mnggadeng media literasi lokal bernama luarKotak. Acara pelatihan yang diikuti oleh ratusan santri se kecamatan Ajibarang tersebut berlangsung dengan santai, penuh guyonan dan keakraban.
Tradisi baca tulis atau literasi dikalangan santri, khususnya di kalangan pelajar NU Kecamatan Ajibarang yang dirasa semakin hari semakin berkurang atau bahkan nyaris hilang kini mencoba dibangkitkan kembali secara berlahan.
"Hal itu yang menjadi dasar bagi kami untuk mengadakan acara ini," ucap Dony, Ketua IPNU Ajibarang "Kami ingin, membangkitkan kembali semangat literasi dikalangan kami," tambahnya.
Kemesraan antara dunia santri dan literasi sebenarnya bukanlah hal baru, sejak dulu keduanya sudah saling akrab dan menjalin hubungan erat. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kitab-kitab karya ulama nusantara yang hinga saat ini masih sering dikaji oleh para santri.
Banyak kitab-kitab karya ulama nusantara tersebut membuktikan bahwa kemampuan literasi mereka bukan hanya isapan jempol belaka, melainkan sudah menjadi tradisi dan budaya yang harus kita jaga.
Santri zaman now juga harus melek literasi, melek dalam arti bisa dan mampu menciptakan sebuah karya tulis, entah itu cerpen, artikel, opini, berita bahkan sampai karya tulis ilmiah. Pendek kata : santri zaman now harus bisa menulis. Apalagi ditengah-tengah semrawutnya arus informasi media sosial yang kian banyak memunculkan hoax, santri zaman now harus cerdas mengolahnya.
Salah satu cara mengolahnya adalah dengan menggiatkan kembali semangat membaca dan menulis. Semangat literasi yang tinggi inilah yang menjadi modal awal santri zaman now untuk tetap eksis, menyuarakan pesan-pesan kyai yang menyejukkan untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Di akhir sesi pelatihan, Susanto pengasuh rubrik riwayat luarKotak kembali menegaskan kepada para santri untuk gemar menulis. "Menulislah, maka kau abadi," tegasnya mengakhiri sesi pelatihan siang itu.
"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah, "
Quotes dari Imam Ghozali itu dikutip oleh Gus Eron, Pengasuh Rubrik Daras luarKotak.id sebagai pembuka acara pelatihan jurnalistik yang digelar untuk memperingati hari santri nasional, Sabtu siang (21/10) di Pendopo Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang.
Acara pelatihan jurnalistik yang helat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ajibarang tersebut menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan akbar Jambore hari santri 2017 Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang yang dimulai sejak Jum'at (20/10) hingga Ahad (22/10).
Dengan mnggadeng media literasi lokal bernama luarKotak. Acara pelatihan yang diikuti oleh ratusan santri se kecamatan Ajibarang tersebut berlangsung dengan santai, penuh guyonan dan keakraban.
Tradisi baca tulis atau literasi dikalangan santri, khususnya di kalangan pelajar NU Kecamatan Ajibarang yang dirasa semakin hari semakin berkurang atau bahkan nyaris hilang kini mencoba dibangkitkan kembali secara berlahan.
"Hal itu yang menjadi dasar bagi kami untuk mengadakan acara ini," ucap Dony, Ketua IPNU Ajibarang "Kami ingin, membangkitkan kembali semangat literasi dikalangan kami," tambahnya.
Kemesraan antara dunia santri dan literasi sebenarnya bukanlah hal baru, sejak dulu keduanya sudah saling akrab dan menjalin hubungan erat. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kitab-kitab karya ulama nusantara yang hinga saat ini masih sering dikaji oleh para santri.
Banyak kitab-kitab karya ulama nusantara tersebut membuktikan bahwa kemampuan literasi mereka bukan hanya isapan jempol belaka, melainkan sudah menjadi tradisi dan budaya yang harus kita jaga.
Santri zaman now juga harus melek literasi, melek dalam arti bisa dan mampu menciptakan sebuah karya tulis, entah itu cerpen, artikel, opini, berita bahkan sampai karya tulis ilmiah. Pendek kata : santri zaman now harus bisa menulis. Apalagi ditengah-tengah semrawutnya arus informasi media sosial yang kian banyak memunculkan hoax, santri zaman now harus cerdas mengolahnya.
Salah satu cara mengolahnya adalah dengan menggiatkan kembali semangat membaca dan menulis. Semangat literasi yang tinggi inilah yang menjadi modal awal santri zaman now untuk tetap eksis, menyuarakan pesan-pesan kyai yang menyejukkan untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Di akhir sesi pelatihan, Susanto pengasuh rubrik riwayat luarKotak kembali menegaskan kepada para santri untuk gemar menulis. "Menulislah, maka kau abadi," tegasnya mengakhiri sesi pelatihan siang itu.
