ZMedia Purwodadi

Ramadhan, Tumben dan Mumpung

Table of Contents
Ramadhan, Tumben dan Mumpung




Ramadhan itu Ramadhan. Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, atau orang jawa (Red. Jingkang) sering menyebutnya dengan ”Wulan Puasa”. Puasa itu puasa. Sila ke empat dari lima Sila yang harus kita pelajari, kita mengerti, dan kita amalkan, dengan sebaik-baiknya, dari lahir maupun batin. Pendek kata ”Rukun islam”

Puasa itu ibadah yang di wajibkan oleh Tuhan sebagi salah satu syarat utama seorang manusia diakui menjadi muslim. Semuanya pasti sudah tahu, Wajib, jika diartikan harus berarti harus berpuasa apabila tidak maka berdosa. Sesuai dengan tata atura-Nya.

Ramadhan dan puasa bak sepasang kekasih yang tidak bisa di piashkan, seperti Adam dan Hawa atau si majnun Qais dan laila. Saling lengkap dan melngkapai. Walau dalam hal-hal tertentu puasa sering nyempil di hari-hari selain ramadan, dan itu disunahkan.

Tetapi saya tidak akan membahas jauh soal itu, pertama saya bukan orang yang pas menjelaskan itu, kedua Ada banyak Kyai, Ustadz, dan Gus yang lebih pas untuk menguraikanya. Salam Takdzim yai.

Saya cuma sedikit mau nyenggol soal sesuatu yang saya lihat dan dengar dengan mata telinga saya, sebagai sebuah fenomena yang, saya namakan ”Tumben” dan ”Mumpung”.

Begini ceritanya, suatu hari di awal ramadan saya bertemu dengan wak sulam. Maka percakapan terjadi diantara kami.

”Wak sampeyan ko Tumben jadi rajin ke masjid sekarang,” Tanya ku

”Iya mumpung, bulan ramadan, katanya ganjaranya dilipat gandakan,” Jawab wak sulam dengan entengnya.

Padahal saya sendiri tau, jika biasanya wak sulam jarang sekali ke masjid, bahkan hanya sekali ke masjid dalam seminggu untuk sholat jum’at. Itupun jika dia sedang tak dinas luar kota.

Ramadan memang di kampanyekan dengan bulan penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan penuh ampunan, pahalanya dilipat gandakan oleh Tuhan. Tapi apakah kita harus menganaktirikan bulan-bulan-bulan yang lainya. Tentu tidak kan.

Saat bulan ramadan datang seolah-olah semua manusia menjadi mendadak menjadi  ngalim, tatat, dan rajin melakukan ibadah kepada Tuhan yang Maha Kasih.

”Kang, ayo ikut tadarus di masjid, mumpung bulan Ramadan," Ajak wak sulam

”He he he, tumben wak, Jenengan ngajak saya ke masjid, biasanya kan ngajak saya main catur sama nonton bola,” Jawab saya sambil tersenyum kecil kepadanya

Ramadan, memang benar bulan penuah berkah, semuanya tersihir untuk banyak beribadah didalmnya. Wak sulan mungkin hanya contoh kecil yang bisa saya tulis. Masih banyak wak sulan, wak sulam yang lainya.

Semoga Wak sulam benar-benar manusia yang mendapat berkah-Nya. Sedangkan aku masih tetap menunggu berkah dari-Nya.



Ditulis pada 7 Ramadhan 1437