Untuk Sehari Sebelum Ramadhan yang Terlewatkan
"Untuk Sehari Sebelum Ramadhan yang Terlewatkan"
Dengan berbalut kerguan dan berselimut kebimbangan.
Hari itu aku mengajakmu jalan, menyisir tepian laut selatan, menikmati semilirnya angin laut yang datang bersama ombak yang mendesah, membasuh kaki-kaki kita yang kepanasan menginjaki pasir yang mendesir.
Saat ombak pergi, kita berdua bangkit dengan senyuman seperti ingin menerjang lautan. Namun saat ombak itu datang kita berdua lari seperti ketakutan sembari tertawa ria dan sungguh saat itu aku benar-benar menikmatinya. dan aku yakin kaupun juga.
Tuhan seperti sengaja menciptakan pantai sebagai tempat untuk bersantai. Karana saat itu, aku melihat begitu santainya dirimu menikmati angin mengendus mengibarkan-ibarkan ujung pangkal kerudung yang kau kenakan.
Aku hayana tersenyum memandng mu kala itu, kemudian dengan pelan aku tanyakan kepada mu
''Apakah ini mimpi, atau nyata?''
''Iya.. Ini nyata,'' jawab mu alus seperti angin dari laut yang berhembus menembus batas-batas keraguan dan kebimbangan yang aku rasakan.
Biarlah, semilir angin yang berhembus, juga deburan ombak yang datang dan pergi menjadi saksi. yang pada saatnya nanti akan kita ceritkan kembali di lain hari.
Dan malam ini, saat aku sedang menuliskanya. Aku masih dapat meraskan bagimana angin dan ombak itu akan tetap abadi didalam hati kita sendiri-sendiri.
21 Ramadan 1437 H
